Rupiah Loyo ke 14.663/US$ Imbas Komentar The Fed Soal Kenaikan Bunga

Rupiah melemah imbas komentar terbaru The Fed yang kembali mempertegas sikap hawkishnya.
Image title
18 Mei 2022, 09:42
rupiah, rupiah loyo, rupiah stagnan, the fed, dolar Amerika Serikat
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Rupiah dibuka stagnan di level Rp 14.645 per dolar AS di pasar spot pagi ini.

Nilai tukar rupiah dibuka stagnan di level Rp 14.645 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Namun, rupiah diramal berbalik melemah imbas komentar terbaru The Fed yang kembali mempertegas sikap hawkishnya.

Mengutip Bloomberg, kurs garuda melemah ke Rp 14.663 pada pukul 09.38 WIB. Rupiah melemah bersama dengan mata uang Asia lainnya seperti yuan Cina yang terkoreksi 0,17% terhadap dolar AS, baht Thailand 0,13%, dolar Singapura 0,11% dan ringgit Malaysia 0,05%.

Sebaliknya, won Korea Selatan menguat 0,38% bersama rupee India 0,34%, yen Jepang 0,19% dan peso Filipina 0,01%, sedangkan dolar Hong Kong dan Taiwan stagnan.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar AS hari ini meski data neraca perdagangan kemarin mencatat kinerja positif. Ia memperkirakan rupiah melemah ke Rp 14.700, dengan potensi support di kisaran Rp 14.600 per dolar AS.

Advertisement

Rupiah akan tertekan usai komentar terbaru The Fed yang kembali mempertegas langkah bank sentral untuk menekan lonjakan inflasi. Dalam wawancara dengan Wall Street Journal kemarin, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan akan terus mendukung kenaikan suku bunga sampai harga-harga kembali ke level target yakni 2%.

Powell bahkan menegaskan siap untuk menaikkan suku bunga melebihi target yang dinilai 'level netral' jika memang langkah tersebut diperlukan. Inflasi di negeri paman sam terpantau turun tipis ke 8,3% pada April tapi masih mendekati level tertingginya dalam 40 tahun.

"Sentimen kenaikan suku bunga acuan AS ini untuk sementara bisa menutup sentimen positif untuk rupiah dari surplus besar neraca perdagangan," ujar Ariston, Rabu (18/5).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca dagang April mencapai US$ 7,56 miliar, ditopang masih kuatnya kinerja ekspor di tengah kinerja impor yang lesu.

 

Namun, seperti dikatakan Ariston, sentimen positif dari dalam negeri tersebut tidak cukup kuat dibandingkan sentimen pengetatan moneter The Fed yang mempengaruhi rupiah belakangan ini. The Fed sudah menaikkan bunga acuannya sebanyak dua kali, dengan kenaikan 25 bps pada Maret dan 50 bps pada awal bulan ini. The Fed diperkirakan masih akan menaikan bunga 50 bps pada dua pertemuan mendatang.

Analis DCFX Lukman Leong memperkirakan rupiah akan menguat terbatas hari ini di rentang Rp 14.600- Rp 14.700 per dolar AS. Sentimen positif dari dalam negeri terutama berkat kinerja neraca dagang yang moncer.

Dari eksternal, ia melihat masih adanya sentimen risk-on  yang mendukung aset serta mata uang beresiko. "Namun, sentimen positif di bursa diperkirakan akan mereda hari ini menyusul pernyatan Powell yang mengkonfirmasikan komitmen akan terus menaikan suku bunga hingga inflasi mereda menyebabkan kekhawatiran di bursa," ujarnya Luqman kepada Katadata.co.id.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait