Jokowi: Inggris Lirik Investasi Rp 132 Triliun ke Ekonomi Hijau RI

Jokowi membuka peluang investasi untuk menggantikan pembangkit batubara dengan energi terbarukan. Ada 5,5 GW PLTU batubara yang bisa masuk dalam proyek
Image title
2 November 2021, 10:58
jokowi, ekonomi hijau, inggris
Antara
Presiden Joko Widodo bertemu PM Inggris Boris Johnson di Glasgow, Skotlandia, Senin (1/11). Foto: Antara

Pemerintah tengah mempromosikan investasi hijau sebagai sektor bisnis masa depan di Indonesia. Presiden Joko Widodo mengatakan, investor asal Inggris akan berinvestasi sebesar US$ 9,29 miliar atau setara Rp 132,52 triliun (kurs Rp 14.265/USD) pada ekonomi hijau RI.

Pertemuan dilakukan pada Senin (1/11) pagi sebelum Jokowi menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Dunia COP26 di Scottish Event Campus, Glasgow. Komitmen investasi dari perusahaan yang hadir diperlukan untuk mendukung percepatan transisi energi dan ekonomi hijau di Indonesia.

"Saya ingin menyampaikan apresiasi komitmen investasi Bapak Ibu sekalian ke Indonesia sebesar US$ 9,29 miliar. Indonesia siap menjadi mitra yang baik bagi investasi Anda," kata Jokowi dalam pertemuan dengan CEOs Forum dengan sejumlah investor besar Inggris, seperti dikutip pada keterangan pers, Selasa (2/11).

 

Jokowi mengatakan, Indonesia membuka peluang investasi untuk melakukan early retirement alias pensiun dini dari pembangkit batubara serta menggantikannya dengan energi terbarukan. Pemerintah mengidentifikasi, ada 5,5 GW PLTU batubara yang bisa masuk dalam proyek.

Adapun, total kebutuhan pendanaan mencapai US$ 25-30 miliar selama 8 tahun ke depan. Mantan Wali Kota Solo itu menyebutkan, Indonesia akan mengalihkan pembangkit batubara dengan renewable energy pada 2040.

"Dengan catatan jika terdapat kerja sama, teknologi, nilai keekonomian yang layak, dan pendanaan internasional yang membantu transisi energi tersebut,” ujarnya.

Selain itu, Indonesia memiliki potensi pengembangan kendaraan dan baterai listrik. Sebab, terdapat kekayaan mineral di Tanah Air, seperti nikel, tembaga, dan bauksit/alumunium. Saat ini, sudah ada komitmen investasi senilai US$ 35 miliar yang sedang berjalan dalam mata rantai baterai dan kendaraan listrik.

Kemudian, Indonesia sedang membangun Green Industrial Park di Kalimantan Utara seluas 13 ribu hektare. Nantinya, kawasan industri itu akan menggunakan sumber energi ramah lingkungan seperti hydropower dan solar panel farm sehingga produk yang dihasilkan bersifat ramah lingkungan.

Presiden menambahkan, ia telah menandatangani Peraturan Presiden mengenai instrumen nilai ekonomi karbon yang akan mengatur mekanisme carbon trading ke depan. Selain mengurangi emisi gas rumah kaca, langkah ini juga meningkatkan pendanaan pembangunan.

Jokowi menilai, pasar karbon harus dikelola dengan berkeadilan dan transparan. Untuk itu, kebijakan pengendalian perubahan iklim Indonesia juga mencakup transisi menuju ekonomi hijau.

Selanjutnya, Kepala Negara memastikan Indonesia akan selalu menjalankan komitmennya. "Indonesia tidak suka membuat retorika. Tapi kami terus bekerja untuk memenuhi komitmen," ujar dia.

Sementara, para CEO sepakat Indonesia merupakan tempat menarik untuk investasi.  Salah satu CEO mengatakan, Indonesia telah menjadi destinasi yang sangat atraktif bagi investasi asing. "Kami percaya Indonesia akan terus menarik investasi dari seluruh dunia,” ujar mereka.

Jokowi juga melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Dalam pertemuan tersebut, Johnson menyampaikan ketertarikan Inggris untuk melakukan investasi di Indonesia.

Johnson mengatakan, investasi dilakukan untuk mendukung transisi ekonomi Indonesia. Ia menilai pentingnya dukungan berupa investasi hijau, dukungan multilateral pendanaan, dan teknologi hijau yang terjangkau.

Turut hadir mendampingi Presiden dalam pertemuan tersebut Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.

 

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait