Produksi Freeport Turun, Smelting Pastikan Pasokan Konsentrat Stabil

ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
PT Freeport Indonesia menyatakan akan mengurangi produksi tambangnya tahun ini.
11/2/2019, 18.55 WIB

"Paling banyak untuk industri kabel. Downstream-nya untuk otomotif, untuk industri air conditioner (AC) belum berjalan dengan baik," kata Sapto.

Produksi asam sulfat Smelting dipasok untuk kebutuhan industri pupuk dan terak tembaga untuk industri semen. Sapto menjelaskan bahwa terak tembaga yang dihasilkan Smelting mempunyai nilai ekonomis tinggi untuk pasir besi. Produk utamanya, katoda tembaga juga telah tersertifikasi LME Grade A, yang merupakan kategori terbaik.

PT Smelting merupakan pabrik pengelolaan biji tembaga menjadi tembaga murni yang didirikan di Gresik, Jawa Timur pada Februari 1996. Sebagai pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) dan kilang tembaga pertama di Indonesia dengan sekitar US $ 500 juta untuk biaya konstruksi langsung.

(Baca juga: Babak Baru Kepastian Pembangunan Smelter Freeport)

Adapun, saham perusahaan ini dimiliki oleh Mitsubishi Materials Corporation sebesar 60,5%, PT Freeport Indonesia sebesar 25%, Mitsubishi Corporation Unimatal Ltd. sebesar 9,5%, dan Nippon Mining and Metals Co. Ltd. sebesar 5,0%.

Halaman: