Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan besaran biaya pengembangan Blok Masela yang terletak di Maluku. Nilai proyek tersebut lebih tinggi daripada besaran rencana awal.
Menteri ESDM Ignasius Jonan menjelaskan biaya pengembangan proyek itu mencapai US$ 16 miliar. "Blok Masela cost-nya US$ 16 miliar," kata dia dalam sarasehan dan diskusi nasional migas di Jakarta, Rabu, (8/8).
Dengan biaya sebesar itu, Jonan tidak yakin Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bisa menanggung hak kelola (participating interest/PI) 10%. Makanya pemerintah menerbitkan Permen 37 Tahun 2016 yang menyebutkan operator bisa menalangi terlebih dulu hak kelola milik BUMD itu.
Jika dibandingkan dengan biaya sebelumnya, maka biaya pengembangan blok Masela sebesar US$ 16 miliar itu lebih tinggi daripada perkiraan awal. Tahun 2016 lalu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan biaya Masela ditekan dari US$ 22 miliar ke US$ 15 miliar.
Angka itu berdasarkan perhitungan dari Arcandra Tahar saat menjabat Menteri ESDM. “Itu yang dilaporkan Pak Arcandra ke saya,” kata Luhut di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (16/8/16).
Biaya sebesar US$ 16 miliar tersebut juga lebih tinggi dibandingkan yang diajukan Inpex dengan memakai skema terapung di laut (FLNG), nilainya mencapai US$ 14,8 miliar. Namun lebih rendah dari perhitungan awal jika kilang dibangun ke Aru maupun ke Tanimbar dengan investasi masing-masing sebesar US$ 22,3 miliar dan US$ 19,3 miliar.
Selama ini biaya pengembangan Masela juga memiliki berbagai versi. Salah satunya biaya proyek Masela yang dikeluarkan oleh Kantor Staf Presiden (KSP) bebebapa tahun lalu.
Berdasarkan data yang dimiliki Katadata.co.id, KSP pernah membuat perhitungan yang berbeda. Nilai investasi untuk skema FLNG sebesar US$ 18,2 miliar, sedangkan untuk skema kilang darat dan pipa ke Aru lebih rendah, yaitu US$ 13,25 miliar. Sementara skema kilang darat dan pipa ke Tanimbar US$ 11,85 miliar.
Adapun saat ini Inpex Corporation masih merevisi proposal pengembangan (Plan of Development/PoD) pertama. Secara paralel Inpex juga tengah mengkaji desain awal (Pre Front End Engineering Design/FEED) proyek Masela.
(Baca: SKK Migas: PoD Blok Masela Rampung Tahun Ini, Mulai Produksi 2027)
Inpex juga tengah melakukan studi penilaian risiko (study risk assessment), studi Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), dan tahap klasifikasi lokasi potensial fasilitas produksi di darat. Targetnya bulan depan proses pre-FEED selesai. Selain itu Inpex berencana akan mengajukan revisi PoD pada November mendatang.