Luhut Sebut Chevron Pangkas Biaya Proyek IDD Hingga 50%

Arief Kamaludin|KATADATA
Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan saat peluncuran aplikasi Go-Bluebird di Jakarta, Kamis, (30/03)
Penulis: Dimas Jarot Bayu
7/6/2018, 09.39 WIB

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan rencana Chevron Indonesia memangkas biaya proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) Gendalo-Gehem. IDD ini merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN).

Meski tak menyebut secara rinci jumlah investasinya, menurut Luhut, pemangkasan biaya itu mencapai 50%. “Mereka cut cost di IDD sampai 50%. Itu karena kecanggihan mereka dan tim Indonesia,” kata dia di Jakarta, Rabu (7/6).

Tahun 2008, Chevron sebenarnya sudah mendapatkan persetujuan pengembangan proyek IDD. Dalam proposal pengembangan (Plan of Development/PoD) nilai investasinya US$ 6,9 miliar hingga US$ 7 miliar.

Namun, proposal itu kemudian direvisi karena harga minyak naik. Perusahaan asal Amerika Serikat itu kemudian mengajukan angka US$ 12 miliar di tahun 2013. Sayangnya proposal itu belum disetujui pemerintah.

Setahun berikutnya Chevron kembali mengajukan revisi dengan nilai investasi US$ 9 miliar. Angka investasi itu dengan asumsi ada insentif investment credit di atas 100%. Proposal itu pun kembali ditolak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Pihak Chevron pun tidak membantah adanya kemungkinan pemangkasan proyek IDD hingga 50% seperti yang disampaikan Luhut. Akan tetapi, Senior Vice President Policy, Public and Government Affairs Chevron Indonesia Yanto Sianipar belum mau mengungkapkan nilai investasi tersebut.

Chevron masih melakukan studi untuk mengetahui biaya proyek IDD tersebut. “Chevron terus mencari peluang untuk mengurangi biaya proyek IDD melalui studi yang sedang dilakukan,” ujar Yanto kepada Katadata.co.id, Kamis (7/5).

(Baca: SKK Migas Targetkan Studi Proyek IDD Chevron Selesai Juni 2018)

Untuk studi kelayakan pekerjaan keteknikan dan desain proyek IDD di lingkup bawah laut (subsea), Chevron menggandeng PT Worley Parsons Indonesia. Sedangkan PT Tripatra Engineering untuk fasilitas produksi.