Menurut Marjolijn, rendahnya investasi ini juga berdampak pada ekonomi daerah.  Sebagai contoh daerah Rokan Hilir, Riau, yang mendapat hasil dari Blok Rokan milik Chevron. Pertumbuhan ekonomi daerah itu pada 2015 hanya sebesar 1 persen. Angka anjlom dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,1 persen. 

"Dengan turunnya aktivitas, pertumbuhan ekonomi turun dan ekonomi daerah melambat," kata dia. (Baca: Tanpa Migas, Indonesia Kehilangan Investasi Hingga Rp 300 Triliun)

Sementara itu, Presiden IPA Christina Verchere mengatakan peluang investasi migas di Indonesia sebenarnya terbuka lebar. Namun, investor membutuhkan kepastian investasi dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

Untuk itu, pemerintah perlu berbenah. Apalagi, Indonesia harus bersaing dengan negara lain seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia yang menjadi sasaran investor dalam berinvestasi.

Di tempat yang sama, Direktur IPA Tumbur Parlindungan mengatakan, investasi migas di Indonesia sangat penting karena bisa memberikan efek berantai kepada masyarakat. Setiap US$ 1 juta investasi migas ke Indonesia dapat menciptakan nilai tambah sebanyak US$ 1,6 juta, tambahan Produk Domestik Bruto sebesar US$ 0,7 juta, dan penciptaan lapangan kerja lebih kurang sebanyak 100 orang.

(Baca: Efek Berganda Industri Migas

Selain itu, Tumbur memaparkan kontribusi PDB sektor hulu migas tahun lalu sebesar US$ 23,7 miliar atau sekitar 3,3 persen terhadap PDB.  "Jika investor masuk maka ekonomi membaik, yang harus dilihat ini efek domino," kata dia. 

Halaman: