Pemerintah Incar Pembangunan 17 Smelter Mineral pada 2023

ANTARA FOTO/Jojon/hp..
Foto udara aktivitas bongkar muat nikel di areal pabrik smelter milik PT Antam di Kecamatan Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, Sabtu (17/12/2022). PT Antam mengoperasikan tiga tambang dan pabrik pengolahan feronikel (feni) di Pomalaa sejak tahun 1968 dengan kapasitas produksi nikel di tambang ini mencapai 6000 Tni/A (Ton Nikel per tahun) dengan hasil produksi baik berupa ore (tanah mengandung nikel) maupun nikel itu sendiri diekspor ke Jepang, China dan Eropa.
31/1/2023, 21.26 WIB

Pemerintah memasang target realisasi pembangunan 17 pabrik pengolahan mineral atau smelter sepanjang tahun 2023. Pembangunan belasan smelter itu ditujukan untuk mendukung program hilirisasi komoditas tambang mineral yang dimulai pertama kali lewat kebijakan larangan ekspor bijih nikel pada Januari 2020.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan bahwa pemerintah saat ini masih mengutamakan pembangunan smelter nikel. “Kami merencanakan di tahun 2023 ada 17 smelter baru, sebagian besar itu smelter nikel,” kata Ridwan dalam Konferensi Pers: Capaian Subsektor Minerba 2022 dan Program Kerja 2023, Selasa (31/1).

Ridwan menjamin pemerintah bakal melakukan pengawasan ketat terhadap pembangunan 17 smelter baru agar bisa terbangun sebelum pergantian tahun. Dalam paparannya, dia menyampaikan ada lima smelter mineral yang terbangun pada tahun 2022. Angka ini di bawah dari target awal tujuh smelter.

Kementerian ESDM juga menargetkan pembangunan 12 smelter bauksit sebagai fasilitas pendukung hilirisasi yang ditetapkan berjalan pada Juni tahun ini. Hingga Januari ini, baru ada empat smelter eksisting dengan total kapasitas input bauksit sejumlah 13,88 juta ton yang menghasilkan output alumina 4,3 juta ton.

Empat smelter itu dimiliki oleh PT Indonesia Chemical Alumina, PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW), dan satu unit smelter ekspansi WHW. Selain itu, produksi bauksit juga domestik juga dimurnikan oleh smelter kepunyaan PT Bintan Alumina Indonesia.

“Kami meningkatkan pengetatan karena di tahun 2023 semua smelter harus sudah selesai. Kami akan terus memperketat pengawasan terhadap kewajiban pembangunan smelter untuk hilirisasi,” ujar Ridwan.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu