Trump Beri Sinyal akan Kelola Cadangan Minyak Venezuela, Apa Dampaknya ke RI?

Youtube/White House
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di KTT ASEAN, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/8). Foto: Youtube/White House
5/1/2026, 14.41 WIB

Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, pada Sabtu (3/1). Usai penangkapan Maduro, Presiden Donald Trump memberikan sinyal AS akan mengelola cadangan minyak Venezuela. 

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar mengatakan serangan AS ke Venezuela memang berpotensi memengaruhi pasar minyak internasional, namun tidak signifikan. 

Menurutnya serangan ini tidak sampai mengguncang atau menganggu pasar internasional, sebab jumlah produksi minyak Venezuela relatif kecil dibandingkan total suplai dunia.

“Kecuali jika konflik berdampak pada sanksi baru atau gangguan jalur ekspor, maka pengaruhnya akan meluas,” kata Bisman kepada Katadata, Senin (5/1).

Venezuela pernah memproduksi 3,5 juta barel per hari (bph) minyak mentah pada 1970-an. Kala itu jumlah tersebut mewakili lebih dari 7% produksi minyak global. Kendati demikian, kinerja produksinya menurun hingga di bawah 2 juta bph pada 2010.

Angkanya terus merosot hingga menyisakan jumlah produksi 1,1 juta bph pada tahun lalu atau hanya mewakili 1% produksi global. Kendati demikian, Bisman menyampaikan dalam jangka pendek serangan AS berpotensi mengerek harga minyak secara terbatas.

“Walaupun lifting tidak signifikan, Venezuela sebagai negara produsen migas tetap akan memberikan pengaruh pada harga minyak global,” ujarnya.

Sementara itu untuk jangka panjang, menurutnya hal ini ditentukan oleh fundamental pasar yaitu keseimbangan suplai dan permintaan global, kebijakan OPEC+, serta pertumbuhan ekonomi dunia. 

“Namun jika masalah Venezuela meluas sampai menjadi konflik kawasan dan eskalasi geopolitik meningkatkan akan mengerek harga dan menjadi faktor penguat harga,” ucapnya.

Berdasarkan data Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), cadangan minyak global mencapai 1,57 triliun barel pada 2024. Dari jumlah tersebut, sebanyak 303,22 miliar barel cadangan minyak berada di wilayah Venezuela. Negara Amerika Latin ini tercatat sebagai pemilik cadangan paling banyak, melampaui Arab Saudi.

Amerika Serikat dahulunya merupakan pembeli utama minyak Venezuela. Hal ini berakhir sejak AS memberlakukan sanksi pada 2019. Kondisi tersebut membuat Cina akhirnya menjadi negara tujuan ekspor minyak Venezuela dalam dekade terakhir.

Meski sebagai tujuan ekspor, namun menurut Bisman Cina memiliki banyak pilihan negara sebagai opsi alternatif. Mereka bisa mendapatkan pasokan impor minyak dari Rusia, Timur Tengah, dan Afrika.

“Tetapi Rusia kemungkinan menjadi substitusi utama karena harganya yang menarik dan faktor kedekatan strategis,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani