ESDM: Dampak Kenaikan Harga Minyak Imbas Perang Iran-AS Baru Terasa Usai Lebaran
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan dampak perang Timur Tengah akan dirasakan mulai bulan depan. Perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) ini telah mengakibatkan naiknya harga minyak dunia hingga sempat menyentuh angka US$ 120 per barel.
Perang tersebut juga mengganggu pasokan minyak global karena Iran menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman minyak. Sebanyak 20 juta barel minyak yang diproduksi negara-negara di Teluk Persia melewati rute ini agar bisa dipasarkan ke seluruh dunia.
“Kami sedang menyiapkan diri setelah momentum Ramadan Idulfitri, karena memang dampak (perang Timur Tengah) bisa kita rasakan mulai April,” kata Laode dalam Safari Ramadan ke Kilang Pertamina Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (12/3).
Dia menyebut pemerintah telah menyiapkan beberapa langkah untuk menghadapi dampak tersebut. Mulai dari persiapan stok yang memadai untuk bahan bakar minyak (BBM), liquified petroleum gas (LPG), dan juga minyak mentah (crude).
“Insya Allah nanti Idulfitri, April dan seterusnya kita bisa menjaga (agar) stabil,” ujarnya.
Untuk mencegah terjadinya krisis energi karena terganggunya pasokan dari Timur Tengah, pemerintah juga sedang mencari sumber pasokan dari negara lain. Seperti Amerika Serikat.
Dampak Perang
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan eskalasi geopolitik berisiko tinggi bagi perekonomian dan fiskal di berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Ketidakpastian ini tercermin dari meningkatnya sentimen risk of di pasar keuangan global ditandai volatilitas tinggi pada indeks pasar baik fix maupun move, pergeseran investor ke aset safe haven, penguatan indeks dolar AS (DXY), serta kenaikan yield US Treasury yang tenor sepuluh tahun,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA, di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (11/3).
Purbaya mengatakan, Indonesia perlu mewaspadai berbagai kemungkinan dari jalur perdagangan. Ia mengatakan, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor minyak dan gas bumi (migas).
“Dari jalur perdagangan, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor migas dan menekan surplus neraca perdagangan dan neraca pembayaran,” kata Purbaya.
Pada kesempatan yang sama, Purbaya menyebutkan realisasi harga minyak mentah di Indonesia hingga Februari 2026 sebesar US$ 68,8 per barel.
“Berdasarkan estimasi kami, realisasi ICP secara average year to date hingga 11 Maret 2026 sekitar US$ 68 per barel,” katanya.
Angka ini masih di bawah asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditetapkan sebesar US$ 70 per barel. “Karena itu sejauh ini masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026,” kata dia.
Purbaya juga menegaskan pemerintah belum berencana mengubah APBN berkaitan dengan kondisi efek perang saat ini. Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia masih kuat.
“Kemarin banyak yang nanya tuh harga minyak sudah tembus US$ 100 apakah pemerintah akan segera merubah APBN-nya? Belum, karena kalau dari sini sampai kemarin (harga minyak) masih rata-ratanya US$ 68. Artinya, fiskal kita masih bagus,” kata Purbaya.
Purbaya mengatakan pemerintah terus memantau upaya optimalisasi lifting migas guna menopang kesinambungan kinerja sektor energi dan memperkuat ketahanan fiskal nasional ke depan.