Harga Minyak Turun Tipis di Tengah Terganggunya Arus Pasokan Iran

Reuters
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, pada 11 Maret 2026.
13/5/2026, 10.12 WIB

Harga minyak dunia turun tipis usai naik 8% selama tiga hari kemarin. Hal ini terjadi  seiring belum ditemukannya penyelesaian konflik di Timur Tengah, dengan kondisi ekspor Iran terus tertekan akibat blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz.

Harga minyak Brent turun 0,6% menjadi US$ 107,17 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate turun 0,6% menjadi US$ 101,60 per barel.

Penghentian arus ekspor Iran ditandai dengan tidak adanya pergerakan kapal tanker laut dalam yang terpantau di Pulau Kharg, Iran, selama beberapa hari terakhir. Hal ini diketahui berdasarkan citra satelit. 

Rute pengiriman migas Timur Tengah yang menghubungkan Teluk Persia ke pasar global ini telah tertutup sejak perang yang dimulai pada akhir Februari lalu. Arus aktivitas perdagangan di Selat Hormuz kian tertekan dengan adanya blokade AS terhadap pelabuhan Iran pada pertengahan April.

Kondisi ini menambah hambatan untuk penyelesaian perang. Padahal, kondisi pasokan yang tersendat ini memicu kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global.

“Risiko utama bagi pembuat kebijakan maupun pasar adalah ketidaksesuaian waktu antara pasar berjangka dan pasar fisik. Harga langsung merespons berita pembukaan kembali, tetapi keseimbangan pasar fisik membaik jauh lebih lambat,” tulis analis Societe Generale SA termasuk Ben Hoff dalam sebuah catatan dikutip dari Bloomberg, Rabu (13/5).

Konflik tersebut telah mengacaukan rantai pasok energi, terutama bagi negara-negara Asia seperti Jepang yang biasanya bergantung pada Timur Tengah untuk sekitar 90% kebutuhan minyak mentahnya. Kilang-kilang Jepang kini berlomba mencari alternatif, termasuk pembelian minyak dari Meksiko baru-baru ini, pertama sejak 2023.

Tanda lain tekanan perang yang lebih luas nampak pada perusahaan minyak milik negara Vietnam yang meminta AS mengizinkan sebuah supertanker bermuatan minyak mentah melewati blokade lautnya di luar Teluk Persia. Mereka beralasan pengiriman tersebut sangat penting bagi perekonomian negara itu. Kapal tersebut sebelumnya melintasi Hormuz namun berbalik arah di dekat area blokade.

“Harga minyak tetap tinggi dan saya yakin pasar memperkirakan kondisi ini akan bertahan lebih lama,” kata analis Enverus, Carl Larry.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani