Harga Minyak Naik Tipis Usai AS dan Iran Kembali Saling Serang
Harga minyak acuan dunia naik tipis setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling serang, meski ada potensi pertikaian di dekat Selat Hormuz itu hanya terjadi sementara.
Harga Brent naik 0,5% menjadi US$ 72,34 per barel pada pukul 09.00 waktu Singapura. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,8% menjadi US$ 69,75 per barel.
Pengiriman migas melalui Selat Hormuz kembali melambat setelah eskalasi terbaru. Para pemilik kapal diperkirakan masih akan berhati-hati untuk melintasi jalur sempit tersebut, sementara ratusan kapal masih tertahan di kawasan Teluk Persia.
Seorang pejabat AS mengatakan kedua pihak untuk sementara akan menghentikan aksi militer sehingga kapal-kapal dapat kembali melintas dengan bebas sebelum perundingan damai dilanjutkan pekan ini.
Harga minyak kini telah menghapus seluruh kenaikan yang tercatat sejak AS dan Israel pertama kali melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Sebelum perang berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz.
Dengan adanya perundingan, maka membuka peluang tercapainya kesepakatan damai yang lebih permanen. Hal ini memungkinkan pembukaan penuh Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran strategis.
"Selama tidak ada perubahan fundamental, para pelaku pasar cenderung memanfaatkan baik reli maupun penurunan harga untuk mengambil keuntungan,” kata Chief Investment Officer Karobaar Capital LP yang berbasis di Chicago, Haris Khurshid dikutip dari Bloomberg, Senin (29/6).
Iran sebelumnya menargetkan sebuah kapal tanker bernama Kiku pada akhir pekan. Kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC) tersebut telah memuat sekitar 2 juta barel minyak di Qatar dan terakhir mengirimkan sinyal posisinya di lepas pantai Fujairah, pelabuhan Uni Emirat Arab yang berada di Teluk Oman.
Tak hanya penyerangan kapal, sebuah helikopter yang dioperasikan Saudi Aramco jatuh di Ras Tanura di dekat pesisir Teluk Persia. Kantor berita resmi Arab Saudi melaporkan insiden tersebut tanpa menjelaskan penyebabnya. Belum diketahui apakah kecelakaan yang terjadi pada Minggu itu berdampak terhadap fasilitas energi di wilayah tersebut.
Sementara itu Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui negaranya tengah menghadapi masalah pasokan bahan bakar, termasuk antrean di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar (SPBU).
Ia juga mengonfirmasikan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan penerapan larangan penuh ekspor solar (diesel) sebagai salah satu langkah untuk mengatasi ketatnya pasokan domestik.