Kapal Pertamina Pride Masih di Timur Tengah, PIS Urus Izin Keluar Kawasan Teluk
PT Pertamina (Persero) mengatakan kapal kargo Pertamina Pride saat ini masih berada di Teluk Arab, kawasan Timur Tengah. Kapal yang berada di bawah naungan PT Pertamina International Shipping (PIS) ini telah tertahan di kawasan tersebut sejak Perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel berlangsung akhir Februari 2026.
“Untuk kapal Pertamina Pride sampai dengan saat ini kami sedang memproses perizinannya. Selat Hormuz juga memanas kembali sehingga pelaksanaan kargo dari Pride masih tertunda,” kata Vice President Corporate Communication Muhammad Baron saat ditemui di Grha Pertamina, Kamis (2/7).
Menurutnya, perusahaan saat ini masih mengamati kondisi Selat Hormuz, dengan mempertimbangkan faktor keselamatan, awak kapal, kargo, serta kapal itu sendiri. Dia berharap eskalasi konflik di Timur Tengah segera mereda.
Baron menyebut kapal tersebut memang memuat pasokan minyak untuk dalam negeri, khususnya bagi Kilang Pertamina Cilacap yang ada di Jawa Tengah.
“Nanti apabila sudah bisa melintas (dari Selat Hormuz) kapalnya untuk Kilang Cilacap,” ujarnya.
Kapal Gamsunoro Berhasil Lintasi Titik Kritis Selat Hormuz
Saat perang Timur Tengah memanas, ada dua kapal milik Pertamina yang berada di kawasan tersebut, yakni kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro. Pekan lalu PIS menyebut kapal Gamsunoro milik perusahaan telah berhasil melintasi titik kritis Selat Hormuz pada pukul 20.00 WIB, Rabu (25/6).
Kapal ini sempat tertahan di Teluk Persia sejak awal Maret 2026 akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran. Pertamina mengatakan kapal ini menempuh perjalanan selama 16 jam untuk melewati Selat Hormuz.
Gamsunoro mulai beranjak dari Teluk Arab, Rabu mulai pukul 01.06 waktu Dubai atau sekitar pukul 04.06 WIB. Kapal melaju dengan kecepatan 7,5 knot dan tiba di mulut Selat Hormuz sekitar pukul 13.00 waktu setempat atau pukul 16.00 WIB. Empat jam kemudian, kapal dinyatakan berhasil melintasi selat dan mencapai titik aman.
Pjs. Corporate Secretary PIS, Vega Pita, mengatakan keputusan perlintasan Gamsunoro diambil setelah perusahaan melakukan pembahasan risk assessment yang ketat selama satu bulan terakhir, dan juga koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Kedutaan Besar RI di Tehran, Iran.
“Pemilihan waktu dan rute melintasi Selat Hormuz telah melalui pembahasan dan penilaian risiko yang sangat ketat. Kami mencatat puluhan persyaratan yang harus dipenuhi kapal, mulai dari asuransi, aspek teknis dan operasional, keamanan, hingga kesiapan kru, sehingga diputuskan kapal dapat mulai bergerak dari Teluk Arab,” ujar Vega dalam keterangan resmi, Kamis (25/6).
Vega menyebut seluruh pihak memonitor pelayaran kapal selama 24 jam penuh. Awak kapal di laut terus berkoordinasi dengan tim di darat yang bersiaga di crisis center PIS untuk memastikan keamanan pelayaran.
Menurutnya, perusahaan juga berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan serta otoritas terkait lainnya untuk memantau perkembangan situasi secara real time dan memastikan seluruh langkah operasional dilakukan secara hati-hati.