Prabowo Sebut Indonesia Jadi Negara Pertama yang Terapkan Mandatori B50

Youtube Sekretariat Presiden
Presiden Prabowo Subianto berpidato dalam Peluncuran Biodiesel 50% atau B50 di Cikampek, Karawang, Jawa Barat, pada Kamis (9/7).
9/7/2026, 16.52 WIB

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program mandatori Biodiesel 50% atau B50 di Rest Area KM 57 Cikampek, Karawang, Jawa Barat, pada Kamis (9/7). Ia menyebut Indonesia kini menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan kebijakan mandatori biodiesel B50.

“Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatory biodiesel B50. Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, ini adalah bukti Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri,” kata Prabowo, sebagaimana disiarkan oleh kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Prabowo mengatakan pemerintah telah mendorong percepatan penggunaan biodiesel sejak sebelum dirinya dilantik sebagai presiden. Setelah menjabat, ia melanjutkan upaya tersebut dengan meminta jajarannya meningkatkan bauran biodiesel dari B40 hingga menargetkan B100.

Ia menyebut para menteri meyakinkannya bahwa implementasi B50 memungkinkan Indonesia tidak impor solar lagi dari luar negeri. "Jadi ini adalah suatu prestasi bangsa yang luar biasa,” ujarnya.

Peresmian ini ditandai dengan pemencetan bel oleh Prabowo yang didampingi oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Proses penekanan bel itu juga dilakukan oleh Kepala Danantara Rosan Roeslani, serta Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri.

Penghematan Devisa Negara

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan implementasi B50 bisa menghemat devisa negara hingga Rp 170 triliun. 

“Pada B40, penghematan devisa Rp 133 triliun, dengan implementasi B50 ternyata (penghematan bisa) Rp 170 triliun,” kata Bahlil, pada kesempatan serupa.

Penerapan B50 juga mengurangi impor solar RI, sekaligus  meningkatkan nilai tambah industri minyak kelapa sawit (CPO) dari Rp 20,92 triliun menjadi Rp 23,49 triliun. 

Program ini juga diklaim meningkatkan penyerapan tenaga kerja dari sekitar 1,8 juta orang pada program B40 menjadi 2,1 juta tenaga kerja dengan B50.

Dalam pidatonya, Bahlil mengatakan B50 meningkatkan kebutuhan CPO Indonesia, dari yang sebelumnya 15,2 juta ton menjadi 16,3-17 juta ton. Menurut Bahlil, hal ini bisa memberi kepastian pasar kepada petani sawit.

“Kalau harga CPO di luar negeri rendah dan negara lain tidak mau (membeli), kita bisa sisihkan untuk bangun industri hilirisasi B50. Supaya harga petani dan industri naik, dan negara sejahtera,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu