PT Pertamina mengembangkan bahan bakar pesawat Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) di Kilang RU IV Cilacap, Jawa Tengah. Pengembangan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi bahan bakar penerbangan berbasis bahan baku terbarukan.
Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro mengatakan pengembangan SAF dari UCO dilakukan setelah Pertamina menjalankan sejumlah tahapan pengujian dan persiapan produksi.
“Target kita yang 2026 dan seterusnya adalah kita melakukan maintenance, maintain produk dari UCO-SAF ini untuk bisa dikomersialkan dengan lebih baik lagi,” kata Hermawan dalam pemaparan di Cilacap, Kamis (10/9).
Pada Agustus-Desember 2023, Pertamina melakukan persiapan sertifikasi dan produksi berkelanjutan. Pengembangan kemudian diarahkan pada pemanfaatan UCO sebagai bahan baku SAF.
Dalam proses itu, Pertamina menggunakan katalis yang diproduksi oleh Research & Technology Innovation (RTI) Pertamina. Pertamina juga memperoleh sertifikasi ISCC CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) pada 2024.
Pengembangan SAF berbahan UCO dilanjutkan melalui pengujian katalis pada 2024. Selanjutnya, pada Juli-Agustus 2025, Pertamina melakukan produksi perdana UCO-SAF di Kilang RU IV Cilacap.
Pertamina juga menyiapkan pengembangan produksi SAF di sejumlah kilang, termasuk Cilacap, Balongan, dan Dumai. Di RU IV Cilacap, perusahaan berencana membangun Biorefinery Cilacap dedicated unit.
Fasilitas tersebut dirancang dengan kapasitas sekitar 288.000 kiloliter per tahun. Pengembangan fasilitas ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi SAF berbahan baku terbarukan.
Pengumpulan Minyak Jelantah
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Pertamina mengumpulkan minyak jelantah (UCO) dari masyarakat dan pelaku usaha.
Pengumpulan dari masyarakat dilakukan melalui dispenser di sejumlah lokasi, termasuk kilang dan jaringan Marketing Operation Region (MOR). Pertamina juga bekerja sama dengan pelaku usaha, seperti hotel, restoran, kafe (Horeca), dan pemasok UCO.
Hermawan mengatakan kapasitas pengumpulan dari masyarakat masih terbatas. Karena itu, Pertamina juga menggandeng pelaku usaha yang dapat mengumpulkan UCO dalam jumlah lebih besar.
Minyak jelantah yang terkumpul kemudian menjalani proses awal atau pretreatment sebelum digunakan dalam produksi SAF di kilang.
Dalam produksi SAF di Kilang Cilacap, bahan utamanya berasal dari kerosin yang dihasilkan dari Crude Distillation Unit II (CDU II), dengan porsi sekitar 97%.
Sementara itu, UCO dikirim ke kilang menggunakan tangki. Setelah disaring dan melalui proses awal, UCO kemudian dimasukkan ke unit Treated Diesel Hydrotreating (TDHT) untuk diproses bersama kerosin.
Hasil pengolahan kemudian ditampung di tangki SAF sebelum dikirim menggunakan kapal atau tank car. Produk akan diproses hingga memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.
Pertamina sebelumnya telah melakukan uji coba SAF dengan bahan nabati. Ke depan, porsi UCO dalam produksi SAF di Kilang Cilacap ditargetkan meningkat dari sekitar 2,4% menjadi 3%.