Pemerintah Brasil mengatakan ICAO memutuskan mengakui manfaat multicropping untuk memproduksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF), pada Jumat (27/6).
Uni Eropa mengalokasikan pendapatan dari penjualan 20 juta izin emisi karbon untuk membantu maskapai penerbangan menutupi kesenjangan harga antara minyak tanah konvensional dan SAF yang lebih mahal.
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mengatakan perusahaan sedang dalam proses melakukan uji komersial produksi Used Cooking Oil to Sustainable Aviation Fuel (USAF) pada kuartal III 2025.
Selain BBM, Kilang Pertamina Internasional juga menghasilkan berbagai produk unggulan lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Airbus akan memanfaatkan sistem pesan dan klaim ini untuk meningkatkan aksesibilitas SAF bagi calon pelanggan, terutama mereka yang memiliki volume terbatas dan jauh dari titik pasokan.
Para eksekutif dan analis minyak menyatakan kemampuan Asia untuk memasok bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau avtur hijau diprediksi melampaui permintaan regional tahun ini.
PT Pertamina (Persero) akan memasarkan bahan bakar Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur berbahan baku used cooking 0il (UCO) atau minyak jelantah
Rolls-Royce menilai adopsi SAF yang lebih luas membutuhkan dukungan insentif dan kebijakan dari pemerintah sehingga harganya bisa mencapai level keekonomian.
Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan mengatakan bahwa komitmen distribusi Pertamina SAF menjadi komponen kunci dari tujuan keberlanjutan yang lebih luas.
Distribusi SAF ini menunjukkan komitmen Pertamina Patra Niaga dalam menyediakan solusi bahan bakar berkelanjutan untuk industri penerbangan, yang sejalan dengan upaya global untuk menekan emisi karbon