Indonesia memiliki potensi untuk menghasilkan 3-4 juta kiloliter minyak jelantah (UCO) setiap tahunnya. Minyak jelantah merupakan bahan baku pembuatan bioavtur.
Kilang Pertamina Internasional (KPI) terus mendorong inovasi energi berkelanjutan di Indonesia melalui pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku campuran minyak jelantah.
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mulai menguji coba produksi bahan bakar pesawat Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF), dengan bahan baku Used Cooking Oil (minyak jelantah).
Pemerintah Brasil mengatakan ICAO memutuskan mengakui manfaat multicropping untuk memproduksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF), pada Jumat (27/6).
Uni Eropa mengalokasikan pendapatan dari penjualan 20 juta izin emisi karbon untuk membantu maskapai penerbangan menutupi kesenjangan harga antara minyak tanah konvensional dan SAF yang lebih mahal.
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mengatakan perusahaan sedang dalam proses melakukan uji komersial produksi Used Cooking Oil to Sustainable Aviation Fuel (USAF) pada kuartal III 2025.
Selain BBM, Kilang Pertamina Internasional juga menghasilkan berbagai produk unggulan lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Airbus akan memanfaatkan sistem pesan dan klaim ini untuk meningkatkan aksesibilitas SAF bagi calon pelanggan, terutama mereka yang memiliki volume terbatas dan jauh dari titik pasokan.
Para eksekutif dan analis minyak menyatakan kemampuan Asia untuk memasok bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau avtur hijau diprediksi melampaui permintaan regional tahun ini.