Pemilu Usai, Sejumlah Investor Bersiap Masuk RI

Arief Kamaluddin | Katadata
Penulis: Rizky Alika
Editor: Pingit Aria
29/5/2019, 12.50 WIB

Salah satu contoh, Bangladesh dianggap menarik lantaran upah buruh yang murah. Kemudian, Vietnam juga menjadi basis investasi baru karena regulasinya yang mudah, pekerja lebih terampil dan murah, serta infrastruktur memadai.

Sementara, Malaysia juga memiliki teknologi infrastruktur yang sangat baik serta Thailand sudah menjadi pemain utama untuk sektor otomotif.

Di sisi lain, Indonesia memiliki banyak potensi, namun ada ganjalan dari birokrasi. Oleh karena itu, masalah tersebut harus diselesaikan guna menarik investasi, terutama relokasi investasi dari Tiongkok.

(Baca: Gejolak Politik Mereda, Investasi Industri Diprediksi Naik Kuartal II)

“Investor butuhnya cepat. Mereka tidak bisa kehilangan waktu karena sudah rugi akibat perang dagang,” ujarnya.

Sementara, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat mengatakan ada satu perusahaan tekstil yang masih minat untuk menanamkan modalnya di dalam negeri lantaran dekat dengan rantai pasokan. Menurutnya, nilai investasinya mencapai Rp 3 triliun.

Meski begitu, masih banyak perusahaan tekstil masuk ke negara Asean lainnya lantaran memiliki akses perdagangan bebas ke Eropa sebagai pasar tekstil terbesar di dunia. “Mereka (investor) lebih memilih ke Vietnam karena punya akses free trade ke Eropa,” ujarnya.

Halaman:
Reporter: Rizky Alika