3 Tahun Jokowi, Menperin: Kontribusi Manufaktur Tertinggi ke-4 Dunia

ANTARA FOTO/FB Anggoro
Siswa SMK mengikuti ujian kompetensi keahlian mengelas di Pekanbaru, Riau (8/3) lalu.
Penulis: Michael Reily
Editor: Pingit Aria
24/10/2017, 08.42 WIB

Di tahun ketiga pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) – Jusuf kalla (JK), industri manufaktur berkontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar 20,26% pada triwulan kedua 2017. Indonesia menduduki peringkat keempat negara dengan kontribusi industri manufaktur tertinggi setelah Korea Selatan dengan sumbangan 29%, Tiongkok (27%), dan Jerman (23%).

“Program hilirisasi industri berbasis agro dan tambang mineral telah menghasilkan berbagai produk hilir antara lain turunan kelapa sawit, besi baja, dan ponsel pintar,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di kantornya, Senin (23/10).

Program pendidikan vokasi yang mengusung konsep link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri juga disebutnya sebagai keberhasilan Jokowi. Sejak Februari 2017, Kemenperin sudah meluncurkan 4 tahap hingga Oktober di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, serta Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.

Program ini telah melibatkan sebanyak 565 industri dan 1.795 SMK. “Upaya ini dalam pemenuhan target presiden untuk menghasilkan satu juta tenaga kerja kompeten melalui program pendidikan vokasi sampai 2019,” tutur Airlangga.

Airlangga menyatakan peningkatan impor bahan baku tidak menjadi masalah karena target yang dikejar pemerintah adalah nilai tambah dari industri. Sehingga pertambahan impor bahan baku yang memberikan nilai tambah yang dampaknya kepada naiknya ekspor.

Airlangga menjelaskan pengembangan industri mencakup komponen rancang bangun, desain, pengadaan bahan baku, nilai tambah, inovasi, penjualan, distribusi, dan daur ulang produk. “Selama nilai tambah terakhir di Indonesia, tidak masalah,” katanya.

Ia mencontohkan, industri otomotif sudah mencapai 80% Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sehingga memberikan nilai tambah yang tinggi. Mitsubishi Expanders merupakan salah satu produksi dalam negeri yang diekspor ke luar negeri. Expanders rencananya bakal dikirim ke luar negeri mencapai 200 ribu unit.

“Karena pasar di Asia Tenggara terbanyak untuk otomotif Indonesia, sebanyak 1,1 juta orang dan diproyeksikan bisa naik jadi 2 juta pada 2022,” ujar Airlangga.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), impor bahan baku untuk industri pada Jauari-September 2017 mencapai US$ 84,76 miliar. Angka ini meningkat 15,21% dibanding periode yang sama pada tahun lalu senilai US$ 73,57 miliar.

Reporter: Michael Reily