Pemerintah Sebut Pemangkasan Produksi Nikel Tak Berdampak ke Industri EV

Antara Foto/Nova Wahyudi
Sejumlah operator dump truck mengangkut slag atau limbah nikel untuk dibawa ke tempat penampungan khusus Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di area smelter PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
19/2/2026, 14.18 WIB

Pengurangan produksi nikel Indonesia dinilai tidak akan berdampak signifikan terhadap industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Hal itu mengingat sebagian besar nikel global maupun domestik tidak digunakan untuk baterai, melainkan untuk industri baja tahan karat (stainless steel).

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Rachmat Kaimuddin, mengatakan kontribusi nikel untuk baterai kendaraan listrik relatif kecil dibandingkan sektor lainnya.

“Tidak ada pengaruhnya. Nikel di Indonesia itu tidak semuanya dibuat baterai. Banyaknya dibuat besi. Jadi kecil persentase buat baterainya,” ujar Rachmat kepada Katadata.co.id, saat ditemui di kantornya pada Sabtu (14/2).

Ia mengacu pada data Nickel Institute, sekitar 65% penggunaan nikel global dialokasikan untuk produksi stainless steel, sementara hanya sekitar 18% digunakan untuk baterai. Sisanya digunakan untuk campuran logam lain dan berbagai kebutuhan industri lainnya.

Selain itu, menurutnya tren teknologi baterai kendaraan listrik saat ini juga menunjukkan bahwa tidak semua baterai EV menggunakan nikel sebagai bahan utama.

Dominasi baterai LFP kurangi ketergantungan pada nikel

Rachmat menjelaskan, sebagian besar kendaraan listrik saat ini menggunakan baterai lithium iron phosphate (LFP), yang tidak membutuhkan nikel.

“Baterai nikel itu bagus buat negara-negara yang musim dingin karena kapasitasnya besar dan tahan suhu dingin, tapi harganya mahal. Kalau Indonesia butuh yang murah, tidak tahan dingin tidak apa-apa karena kita tidak ada salju,” ujarnya.

Menurut data International Energy Agency, distribusi baterai EV global menunjukkan penggunaan baterai LFP terus meningkat. Secara global, pangsa baterai LFP meningkat dari 37% pada 2022 menjadi 50% pada 2024. Sebaliknya, baterai berbasis nikel, terutama kategori high-nickel, cenderung mengalami penurunan pangsa pasar.

Dominasi baterai LFP bahkan lebih kuat di Cina, yang merupakan pasar EV terbesar dunia, dengan pangsa mencapai sekitar 75% pada 2024. Sementara itu, baterai berbasis nikel masih dominan di Eropa dan Amerika Serikat, terutama untuk kendaraan premium yang membutuhkan jarak tempuh lebih jauh.

Menurut Rachmat, kondisi ini menunjukkan bahwa keterkaitan antara produksi nikel dan industri EV tidak sebesar yang sering diperkirakan.

“Ada hubungannya baterai dengan nikel, tapi tidak signifikan. Nikel yang jadi baterai itu sedikit kok,” katanya.

Indonesia saat ini merupakan produsen nikel terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 50% dari total produksi global. Dari sisi cadangan, Indonesia juga memiliki sekitar 55 juta metrik ton nikel atau sekitar 52% dari total cadangan dunia, berdasarkan data Kementerian ESDM yang mengacu pada USGS 2024.

Cadangan tersebut bahkan melampaui Australia, serta jauh di atas negara lain seperti Brasil dan Rusia.

Namun, serapan domestik nikel untuk industri kendaraan listrik masih terbatas. Hal ini karena industri otomotif nasional masih relatif kecil dibandingkan skala produksi nikel nasional.

“Produksi mobil Indonesia itu cuma 2% dari dunia. Jadi nikel Indonesia itu lebih banyak diekspor. Serapan pasar mobil pun cuma 2%, itu juga kalau semua pakai baterai nikel, padahal tidak semuanya,” ujar Rachmat.

Dengan kondisi tersebut, sebagian besar produksi nikel Indonesia tetap akan diarahkan ke pasar ekspor, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri baja tahan karat dan manufaktur global.

Rachmat menekankan bahwa yang lebih penting saat ini adalah memastikan keberlanjutan penyerapan produksi nikel Indonesia di pasar global. “Yang perlu kita pastikan nikel kita bisa diserap. Karena memang sebagian besar akan tetap diekspor,” ujarnya.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina