Perang Iran Bisa Kerek Harga Elektronik, Industri Tambah Stok Semikonduktor
Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik (Apkonik) menyatakan industri elektronik mulai mengantisipasi dampak eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap rantai pasok global dengan meningkatkan cadangan stok komponen impor, seperti komponen kelistrikan dan semikonduktor.
Ketua Umum Apkonik Denny Irawan mengatakan, ketegangan geopolitik tersebut dapat berdampak pada jalur perdagangan internasional, terutama yang melintasi Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia sekaligus dilalui banyak kapal logistik internasional.
“Kami memandang bahwa dinamika geopolitik termasuk potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran perlu dicermati secara serius oleh pelaku industri karena berpotensi memengaruhi rantai pasok global, biaya logistik, serta stabilitas harga komoditas energi,” ujar Denny kepada Katadata.co.id, dikutip Senin (9/3).
Ia mengatakan, dampak langsung konflik Iran dengan AS dan Israel bagi industri elektronik umumnya tidak terjadi pada komponen utama, tetapi lebih pada ketidakpastian pasokan dan waktu pengiriman barang. Jika terjadi gangguan pada jalur pelayaran atau lonjakan harga energi, maka waktu pengiriman komponen impor berpotensi menjadi lebih panjang.
Selain itu, perusahaan juga cenderung meningkatkan cadangan stok (buffer stock) untuk komponen penting seperti cip atau semikonduktor, modul displai, dan komponen kelistrikan atau power supply. Produsen juga dapat menyesuaikan rencana produksi dengan memprioritaskan produk yang memiliki permintaan pasar paling stabil.
Meski demikian, Denny mengatakan sebagian besar anggota asosiasi masih menjalankan produksi secara normal. “Sejauh ini sebagian besar anggota asosiasi masih mengoperasikan produksi secara normal, namun sudah mulai melakukan langkah antisipatif dalam pengelolaan stok,” kata dia.
Berpotensi Kerek Harga jika Konflik Berlanjut
Dari sisi harga, dampak ke konsumen diperkirakan tidak terjadi secara langsung. Namun kenaikan harga dapat muncul melalui beberapa faktor, seperti peningkatan harga energi global yang memengaruhi biaya produksi dan transportasi, kenaikan tarif pengiriman laut apabila jalur pelayaran terganggu, serta fluktuasi nilai tukar yang memengaruhi harga komponen impor.
Hingga saat ini, Denny menyebut kenaikan biaya masih dalam kategori moderat dan belum berdampak signifikan terhadap harga jual produk elektronik di pasar domestik. Namun, jika ketegangan geopolitik berlanjut atau eskalasi meningkat, maka potensi kenaikan harga elektronik di tingkat konsumen tetap terbuka.
“Jika kondisi geopolitik berlanjut atau eskalasi meningkat, maka potensi kenaikan harga barang elektronik di tingkat konsumen bisa terjadi, meskipun sifatnya bertahap dan tidak drastis,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi potensi gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya produksi, industri elektronik mulai menerapkan sejumlah strategi mitigasi. Salah satunya dengan melakukan diversifikasi sumber pemasok komponen sehingga tidak hanya bergantung pada satu negara atau satu jalur logistik.
Selain itu, perusahaan juga menyesuaikan manajemen inventori dengan meningkatkan safety stock untuk komponen kritikal agar produksi tetap berjalan meski terjadi keterlambatan pengiriman.
Produsen juga melakukan optimalisasi kontrak logistik melalui renegosiasi kontrak pengiriman jangka menengah serta mengamankan slot kapal lebih awal guna menghindari lonjakan biaya mendadak. Upaya efisiensi produksi dan operasional juga diperkuat untuk menekan kemungkinan kenaikan harga di tingkat konsumen.