Industri Baja Tertekan Lonjakan Biaya Energi, Minta Perluasan HGBT
Industri baja nasional tengah menghadapi tekanan akibat lonjakan biaya energi dan gangguan rantai pasok global yang terdampak perang Iran. Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) mengatakan, kondisi ini berdampak langsung pada kinerja manufaktur dalam negeri, terutama bagi pelaku industri dengan intensitas penggunaan listrik dan gas yang tinggi.
Direktur Eksekutif IISIA, Hary Warganegara, menyebutkan bahwa kenaikan harga energi tidak hanya meningkatkan biaya produksi industri baja, tetapi juga memperburuk tekanan dari sisi logistik global. Ketegangan geopolitik, termasuk di kawasan Timur Tengah, turut memicu kenaikan ongkos pengiriman serta memperpanjang waktu distribusi bahan baku impor seperti scrap, billet, dan slab.
“Situasi ini menciptakan ketidakpastian pasokan sekaligus meningkatkan biaya produksi secara signifikan,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Jumat (17/4).
Dari sisi produksi, utilisasi industri baja nasional saat ini berada di kisaran 52%. Angka itu menunjukkan kapasitas produksi yang belum termanfaatkan secara optimal dan cenderung stagnan. Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi mahalnya energi, tingginya volume impor baja, serta belum maksimalnya daya serap pasar domestik.
Meski permintaan dari sektor konstruksi dan infrastruktur masih relatif terjaga, produk baja dalam negeri menghadapi persaingan ketat dengan baja impor yang menawarkan harga lebih kompetitif.
Tekanan paling besar dirasakan oleh industri yang menggunakan jalur Electric Arc Furnace (EAF), serta unit rolling dan reheating. Ketergantungan tinggi terhadap listrik dan gas membuat sektor ini sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi.
“Selain itu, industri baja antara dan hilir yang masih bergantung pada bahan baku impor juga terdampak akibat kenaikan biaya logistik dan ketidakpastian pasokan global,” kata Hary.
Untuk menjaga daya saing, IISIA mendorong pemerintah memperkuat kebijakan energi, terutama melalui perluasan dan keberlanjutan program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Kepastian pasokan gas dan stabilitas tarif listrik dinilai menjadi kunci bagi keberlangsungan industri baja nasional.
Kurangi Ketergantungan Impor Bahan Baku
Selain itu, asosiasi juga menilai perlunya penguatan struktur industri melalui pengembangan sektor hulu, pengurangan ketergantungan impor bahan baku, serta percepatan hilirisasi. Integrasi dengan sektor pengguna utama seperti konstruksi, otomotif, dan perkapalan juga dinilai penting untuk meningkatkan daya serap produk dalam negeri.
Di sisi lain, dukungan insentif fiskal seperti tax allowance, tax holiday, dan kemudahan investasi dinilai perlu dilanjutkan guna menarik investasi baru dan menjaga keberlangsungan industri.
Dalam jangka panjang, IISIA menekankan pentingnya transformasi menuju produksi baja rendah emisi atau green steel. Langkah ini menjadi krusial agar industri baja Indonesia tetap kompetitif di pasar global, terutama dalam menghadapi kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang akan berdampak pada ekspor produk berbasis karbon tinggi.
“Transformasi menuju teknologi rendah emisi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar industri baja nasional tetap relevan di pasar global,” kata Hary.