Industri Tekstil Mulai Gunakan AI dalam Produksi, Kurangi Kebutuhan Tenaga Kerja
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi untuk meningkatkan produktivitas di tengah tekanan biaya dan kenaikan upah. Kondisi ini bisa berdampak pada pengurangan akan kebutuhan tenaga kerja oleh sektor yang selama ini dikenal sebagai industri padat karya tersebut.
Ketua Umum Asosiasi Garment & Textile Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, mengatakan pemanfaatan AI menjadi kebutuhan bagi industri padat karya seperti tekstil agar tetap kompetitif, terutama di tengah tekanan inflasi dan kenaikan biaya produksi.
Menurutnya, dalam 30 tahun terakhir, harga sandang mengalami tekanan inflasi yang tinggi, sementara industri tetap dituntut menjaga daya beli masyarakat. Di sisi lain, kenaikan upah juga terus terjadi, bahkan pada masa krisis 1998 sempat melonjak hingga empat kali lipat.
“Kalau kita lihat inflasi naik, upah naik, dibanding inflasi sandang sendiri, tidak mungkin kalau kita tidak pakai teknologi,” ujarnya dalam acara Katadata Policy Dialogue bertajuk "Nasib Industri Tanah air di Bawah Bayang-bayang Perang Global" di Kantor Katadata, Jakarta Selatan, Rabu (6/5).
Anne mengatakan, penggunaan teknologi seperti AI dan otomatisasi menjadi kunci agar peningkatan output tidak menggerus kemampuan industri dalam membayar upah pekerja. Dengan demikian, industri tetap dapat menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan tenaga kerja.
Ia menyebut, industri TPT saat ini menyerap sekitar 3 juta tenaga kerja langsung dengan nilai perputaran mencapai sekitar US$43 miliar, terdiri dari US$30 miliar pasar domestik dan US$12–13 miliar ekspor. Namun, nilai tambah industri masih relatif rendah, yakni sekitar 20–30%.
Untuk itu, industri menargetkan peningkatan nilai hingga US$100 miliar dalam jangka panjang, dengan komposisi sekitar US$40 miliar ekspor dan US$50 miliar kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sektor sandang. Dalam skenario tersebut, jumlah tenaga kerja diproyeksikan sekitar 2 juta orang, dengan peningkatan nilai tambah yang lebih tinggi.
“Jadi kita bukan mengurangi pekerja, tapi kita harus selalu upgrade pekerja,” kata Anne.
Ia menambahkan, transformasi teknologi harus diiringi dengan penguatan SDM, khususnya dalam memahami dan mengoperasikan teknologi baru. Menurutnya, tantangan utama bukan hanya pada penciptaan teknologi, tetapi juga kemampuan tenaga kerja dalam memanfaatkannya secara optimal.
“AI atau digitalisasi itu ada hubungannya dengan kemampuan SDM untuk memakai, bukan hanya menciptakan,” ujarnya.
Teknologi Bukan Ancaman
Anne juga mengingatkan agar pelaku industri tidak memandang teknologi sebagai ancaman. Sebaliknya, pemanfaatan AI justru dapat memperkuat daya saing industri nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.
“Jangan memusuhi teknologi. Kalau kita memusuhi, kita akan tertinggal. Tapi kalau kita manfaatkan, kita bisa bertahan bahkan unggul,” katanya.
Selain itu, ia menilai kebijakan industri juga perlu diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri, termasuk dengan mengoptimalkan bahan baku impor menjadi produk bernilai tinggi untuk ekspor.
Di sisi investasi, Anne menekankan pentingnya dukungan pemerintah tidak hanya bagi penanaman modal asing (PMA) baru, tetapi juga bagi pelaku usaha yang telah lama beroperasi di Indonesia. Menurutnya, ekspansi industri akan lebih optimal jika didukung oleh kebijakan yang konsisten dan berpihak pada penguatan sektor manufaktur.
Dengan kombinasi teknologi, penguatan SDM, dan kebijakan yang tepat, industri tekstil diyakini mampu meningkatkan output tanpa menekan upah, sekaligus memperkuat posisinya sebagai sektor padat karya yang tetap kompetitif di era digital.