Cina Setop Impor Daging Sapi dari Tiga Pabrik Brasil Usai Temukan Kandungan Obat

Farm Progess
Impor daging sapi asal Brasil
Penulis: Kamila Meilina
22/5/2026, 09.02 WIB

Cina menangguhkan impor daging sapi dari tiga fasilitas pabrik pengolahan daging asal Brasil setelah ditemukannya penggunaan hormon sintetis yang dilarang dalam aturan keamanan pangan negara tersebut. 

Dikutip dari Reuters pada Kamis (21/5), media Cina Globo Rural melaporkan bahwa larangan itu diberlakukan setelah Beijing mendeteksi penggunaan obat hewan berbasis hormon pada sapi yang berasal dari tiga pabrik meatpacking.

Tiga fasilitas yang terkena dampak merupakan milik JBS, yakni perusahaan pengolah daging terbesar di dunia, serta Prima Foods dan Frialto. Ketiga perusahaan belum memberikan tanggapan atas keputusan itu.

Langkah ini terjadi di tengah kunjungan pejabat Kementerian Pertanian Brasil ke Cina dalam rangka pembicaraan perdagangan antara kedua negara.

Brasil tengah mendorong Cina untuk menyetujui ekspor kembali dari 33 fasilitas pemotongan daging sebagai upaya memperluas akses pasar ke negara pembeli daging sapi terbesar di dunia tersebut.

Asosiasi industri daging Brasil Abiec menyebut China sempat mengizinkan tiga fasilitas untuk kembali mengekspor daging sapi setelah sempat dihentikan pada 2025.

Cina merupakan salah satu importir daging sapi terbesar di dunia dan telah beberapa kali memperketat aturan impor pangan hewani, termasuk dengan alasan keamanan pangan dan perlindungan industri domestik. 

Menurut laporan, Cina menyerap daging senilai hampir US$ 3 miliar atau Rp 52,9 triliun (kurs Rp 17.670) dari Brasil. 

Namun, sistem kuota impor yang diperketat sejak Desember 2025 diperkirakan dapat menekan arus perdagangan. Jika laju impor berlanjut, tarif 55% akan diberlakukan terhadap pengiriman dari kedua negara mulai bulan depan, yang berpotensi menghambat ekspor secara signifikan.

Di sisi lain, Brasil dan Australia, sebagai dua eksportir daging sapi terbesar dunia, diketahui tengah meminta Beijing untuk membuka ruang lebih besar bagi ekspor mereka. Kedua negara hampir mencapai batas kuota 2026, yang jika terlampaui dapat memaksa penghentian pengiriman.

Keduanya juga mengusulkan agar Cina mengalihkan kuota ekspor yang tidak terpakai dari negara lain kepada Brasil dan Australia. Data pemerintah Cina menunjukkan hingga akhir Maret, Argentina baru menggunakan 27,5% kuota, Uruguay 15%, dan Selandia Baru 14%.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina