Gapki Proyeksi Pasokan CPO 2027 Tertekan El Nino, Ekspor Turun 5 Juta Ton
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada 2027 akan tertekan akibat dampak El Nino. Penurunan produksi tersebut diperkirakan berdampak pada berkurangnya volume ekspor minyak sawit Indonesia.
Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengatakan pasokan bahan baku CPO untuk memenuhi kebutuhan biodiesel B50 pada 2026 masih mencukupi. Tambahan kebutuhan CPO untuk program itu diperkirakan maksimal sekitar 1 juta ton.
"Tahun ini bahan baku CPO untuk B50 tidak ada masalah karena penambahan kebutuhan bahan baku maksimum hanya sekitar 1 juta ton, jadi total kebutuhan untuk B50 sekitar 14 juta ton, tidak ada masalah masih mencukupi," kata Eddy kepada Katadata.co.id, Selasa (29/9).
Namun, kondisi itu diperkirakan berubah pada 2027. Gapki memperkirakan produksi CPO akan turun seiring dampak El Nino, sementara kebutuhan domestik untuk biodiesel justru meningkat.
Berdasarkan estimasi Gapki, produksi CPO pada 2026 diperkirakan mencapai 53,73 juta ton. Angka tersebut diproyeksikan turun menjadi 51,73 juta ton pada 2027, atau berkurang sekitar 2 juta ton atau 3,72%.
Secara keseluruhan, produksi minyak sawit yang mencakup CPO dan palm kernel oil (PKO) juga diperkirakan turun dari 58,82 juta ton pada 2026 menjadi 56,64 juta ton pada 2027. Penurunannya mencapai sekitar 3,7%.
"Tahun depan 2027 baru ada masalah kalau produksi turun akibat El Nino, yang akan berkurang ekspor," ujar Eddy.
Ekspor CPO Diproyeksi Turun
Penurunan produksi tersebut terjadi ketika konsumsi minyak sawit dalam negeri diperkirakan meningkat. Gapki memperkirakan total konsumsi domestik pada 2027 mencapai 30,20 juta ton, naik 11,37% dibandingkan estimasi 2026 sebesar 27,12 juta ton.
Kenaikan terutama berasal dari konsumsi biodiesel. Kebutuhan CPO untuk biodiesel diproyeksikan meningkat dari 14,69 juta ton pada 2026 menjadi 17,4 juta ton pada 2027, atau tumbuh 18,46%.
Sementara itu, konsumsi untuk pangan diperkirakan naik dari 10,13 juta ton menjadi 10,43 juta ton. Konsumsi untuk oleokimia juga diproyeksikan meningkat dari 2,30 juta ton menjadi 2,37 juta ton.
Kombinasi penurunan produksi dan peningkatan konsumsi domestik tersebut diperkirakan mempersempit volume minyak sawit yang dapat diekspor.
Gapki memproyeksikan total ekspor produk sawit pada 2027 hanya mencapai 26,49 juta ton, turun sekitar 4,63 juta ton atau 14,87% dibandingkan estimasi 2026 sebesar 31,12 juta ton.