RI Ekspansi Perdagangan ke Asia Selatan, Komoditas CPO Mendominasi

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan Indonesia terus membuka pasar-pasar perdagangan baru, salah satunya ke Asia Selatan.
Penulis: Mela Syaharani
14/10/2026, 18.05 WIB

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan Indonesia terus membuka pasar-pasar perdagangan baru, salah satunya ke Asia Selatan. Dia menyebut perluasan ini potensial sebab Indonesia sudah memiliki banyak perjanjian dagang dengan negara-negara di kawasan tersebut.

“Kami terus membuka pasar-pasar baru. Saat ini kami perluas ke Timur Tengah terlebih dahulu, melalui penyelesaian Indonesia Gulf Cooperation Council. Lalu kami akan mengejar ke negara lain termasuk Asia Selatan,” kata Budi saat ditemui di sela-sela acara  pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (14/10).

Tak hanya perjanjian dagang, perluasan pasar ini juga dilakukan karena India merupakan negara dengan nilai perdagangan dengan surplus tertinggi kedua, setelah Amerika Serikat (AS).

Untuk menjaga surplus dan pasar ini maka pemerintah perlu untuk menaikkan surplus ekspor Indonesia kesana. Kendati demikian, dia tidak merinci berapa target kenaikan surplus pedagangan ke India pada tahun depan.

“Yang jelas kalau ke India dan Pakistan selalu naik dan surplus,” ujarnya.

Lebih lanjut Budi mengatakan komoditas utama ekspor ke India adalah minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan batu bara.

“Tapi, yang mendominasi CPO dan produk turunannya,” ucapnya.

Ekspor dan Konsumsi CPO Naik

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) sebelumnya mencatat terdapat peningkatan konsumsi dan ekspor minyak sawit pada Agustus 2026.

Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengatakan total konsumsi dalam negeri pada bulan Agustus 2026 mencapai 2.304 ribu ton, atau naik 1,28% dibandingkan Juli 2026 sebesar 2.275 ribu ton.

“Peningkatan konsumsi terjadi pada sektor biodiesel yang mencapai 1.350 ribu ton, naik 5,03 persen dari 1.285 ribu ton pada Juli,” kata Eddy dikutip dari Antara, Rabu (14/10).

Secara kumulatif, Januari-Agustus 2026, total konsumsi dalam negeri mencapai 17.523 ribu ton, lebih tinggi 6,81% dibandingkan periode yang sama pada 2025 (year-on-year/yoy) sebesar 16.406 ribu ton.

Di sisi lain, total ekspor produk sawit pada Agustus 2026 mencapai 3.588 ribu ton, naik 12,56% dibandingkan Juli sebesar 3.188 ribu ton.

Eddy mengatakan, peningkatan terjadi pada ekspor olahan minyak sawit menjadi 2.643 ribu ton dari 2.296 ribu ton (15,12%). Lebih lanjut, peningkatan juga terjadi pada ekspor minyak sawit mentah (CPO) menjadi 329 ribu ton dari 249 ribu ton (31,83%).

Sementara, ekspor olahan minyak inti sawit (PKO) bulan Agustus naik 14,58% sebesar 113 ribu ton dari sebelumnya 99 ribu ton.

“Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, total ekspor mencapai 23.370 ribu ton, lebih tinggi 2,97% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 22.696 ribu ton,” kata Eddy.

Adapun nilai ekspor produk sawit pada Agustus 2026 mencapai US$ 4,29 miliar, naik 12,62% dari bulan sebelumnya sebesar US$ 3,81 miliar.

Secara kumulatif dari periode Januari hingga Agustus 2026, nilai ekspor mencapai US$ 27,55 miliar, atau lebih tinggi 11,14% dari 2025 senilai US$ 24,78 miliar. Hal ini dipengaruhi oleh harga ekspor yang relatif lebih baik.

Menurut negara tujuannya, peningkatan ekspor Agustus dibandingkan Juli tahun ini antara lain terjadi untuk tujuan Pakistan (265 ribu ton), India (89 ribu ton), Rusia (77 ribu ton), Bangladesh (66 ribu ton), dan Malaysia (38 ribu ton).

“Dengan stok awal tahun sebesar 2.068 ribu ton, total produksi Januari-Agustus 2026 sebesar 40.997 ribu ton, total konsumsi dalam negeri sebesar 17.523 ribu ton, total ekspor 23.370 ribu ton, serta impor sebesar 43 ribu ton, maka stok akhir Agustus 2026 tercatat sebesar 2.214 ribu ton,” ujar Sekretaris Jenderal Gapki M. Hadi Sugeng Wahyudiono.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani