Peneliti Amerika Waspadai Ancaman Mutasi Covid-19 dari Varian Delta

ANTARA FOTO/REUTERS/Mario Anzuoni/HP/dj
Pengunjung museum Discovery Cube Los Angele setelah dibuka kembali di Sylmar, California, Amerika Serikat, Jumat (28/5/2021).
Penulis: Yuliawati
12/8/2021, 12.16 WIB

Peneliti Amerika serikat mewaspadai munculnya mutasi virus corona dari varian Delta. Saat ini varian Delta menyebabkan lonjakan kasus Covid-19 pada hampir seluruh belahan dunia yang mencapai 205 juta kasus per Kamis (12/8).

Penularan varian ini berlangsung sangat cepat. Di Amerika Serikat, varian Delta menyumbang 83% kasus infeksi Covid-19. Beberapa negara lain pun didominasi varian Delta seperti India, Skotlandia, dan Inggris. .

Pakar epidemiologi AS, Anthony Fauci mengungkapkan kemungkinan munculnya  mutasi varian Delta. Proses mutasi tersebut memungkinkan terjadi apabila penyebarannya tak bisa dikendalikan.

Dia mewanti-wanti warga Amerika untuk menjaga protokol kesehatan seperti mengenakan masker, berjaga jarak dan mencuci tangan untuk mencegah penularan. Mencegah penularan merupakan upaya membendung mutasi Covid-19.

“Jika Anda membiarkan virus beredar bebas dan tidak mencoba menghentikannya, cepat atau lambat Anda akan mendapatkan varian lain yang bisa lebih bermasalah dari Delta,” ucap Fauci, dikutip dari Microsoft News, Selasa (10/8).

Varian Delta memiliki tingkat penularan 40-60% lebih menular daripada varian Alpha, sehingga peneliti memperkirakan hasil mutasi akan lebih mengerikan. Melansir American Society for Microbiology (ASM), varian Delta memiliki kombinasi mutasi yang membuatnya sangat mengkhawatirkan dalam kacamata para ilmuwan.

Untuk itu, upaya yang harus dilakukan dalam mencegah mutasi virus adalah menghentikan penyebaran virus. “Semakin banyak infeksi, semakin besar kemungkinan terjadinya mutasi,” kata Vaughn Cooper, ahli biologi evolusioner, dikutip dari ASM, Jumat (30/7).

Pengabaian protokol kesehatan akan berakibat pada tingginya kemungkinan mutasi virus. Varian baru muncul ketika virus menggandakan diri saat menginfeksi manusia. Mutasi adalah proses alamiah virus saat keliru mereplikasi urutan genetikanya selama menggandakan diri di sel inang.

Setiap virus akan menyalin unsur genetika mereka dan selalu ada kesalahan penyalinan. Ketika virus gagal mereplikasi unsur genetika yang sama persis seperti sebelumnya, di situlah virus bermutasi dan melahirkan varian baru.

Pada virus corona, para ilmuwan memperkirakan bahwa satu mutasi bisa terjadi pada populasi virus setiap 11 hari atau lebih. Meski begitu, proses tersebut tidak selalu terjadi dengan kecepatan tetap.

Agar mengurangi peluang mutasi Covid-19, maka penting mencegah penularan virus.  Pencegahan penularan merupakan upaya menghalangi virus untuk mereplikasi dirinya di dalam sel manusia. Intinya, semakin kecil penularan virus, maka semakin kecil pula kemungkinan virus bermutasi.

Daya Mutasi Varian Delta

Penelitian American Society for Microbiology menyebutkan virus corona tidak bermutasi lebih cepat dari virus RNA lain seperti influenza dan HIV. Penyebabnya, karena corona memiliki novel exoribonuclease (ExoN) yang dikodekan dalam genomnya. Menurut para ahli, kandungan ExoN tersebut membuat virus lambat dalam bereplikasi.

Melansir jurnal Nature, Bette Korber, ahli biologi komputasi di Los Alamos National Laboratory (LANL) di New Mexico, mengatakan virus corona jauh lebih lambat bermutasi dibandingkan virus HIV. Namun, Korber melihat ada mutasi yang menonjol dari virus corona.



Mutasi tersebut dalam gen yang membuat kode pada protein dan berperan membantu partikel virus menembus sel. Lebih lanjut, Korber melihat mutasi tersebut berulang kali dalam sampel orang-orang yang terinfeksi Covid-19.

Meski dianggap prosesnya lambat, mutasi pada genom virus corona bisa lebih dari 12.000  kali. Para peneliti masih melakukan analisis lebih mendalam terhadap kemungkinan dan risiko mutasi dari varian-varian virus corona.

Cover-Infografik_Senjata meredam pandemi lacak kasus covid-19 (Katadata)


Penyumbang bahan: Akbar Malik Adi Nugraha