Iran Siap Perang Habis-habisan dengan AS tapi Tetap Buka Opsi Diplomasi
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya siap menghadapi perang "kiamat" melawan Amerika Serikat (AS), namun ia tetap membuka pintu bagi diplomasi agar tidak melewatkan kesempatan apa pun untuk perdamaian.
Araghchi menyampaikan hal tersebut saat tampil dalam acara "Meet the Press" di NBC News, pada Minggu (27/9), setelah sidang Majelis Umum PBB pekan lalu. AS dan Iran telah terlibat dalam konflik yang pasang-surut sejak 28 Februari 2026. Situasi ini memicu guncangan pasar minyak global yang menyebabkan lonjakan harga bahan bakar serta memperparah inflasi.
"Jika ditanya, sebenarnya tidak ada alasan bagi kami untuk kembali menempuh jalur diplomasi, namun saya tetap mengupayakannya karena menurut saya kita tidak boleh melewatkan kesempatan apa pun untuk perdamaian," ujar Araghchi seperti dikutip CNBC.
"Kami siap bernegosiasi, sama siapnya dengan kesiapan kami menghadapi tantangan apa pun... Kami bersikap tegas dalam menghadapi agresi apa pun terhadap kami, bahkan jika itu berujung pada perang kiamat."
Pada hari Jumat (25/9), Araghchi telah mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya kembali perundingan nuklir dengan AS dalam waktu tujuh hari, dengan syarat pemerintah Trump menyetujui ketentuan yang diajukan Iran.
Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menolak usulan Iran yang sebenarnya dapat membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Iran menghambat lalu lintas di selat tersebut selama konflik berlangsung, sehingga menghambat ekspor minyak dan gas dari Teluk Persia.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa selain menolak kesepakatan tersebut, Trump menyatakan niatnya untuk kembali melancarkan serangan bom terhadap Teheran setelah pemilihan umum sela AS pada November 2026.
Dalam wawancara terpisah dengan NBC News, Duta Besar AS untuk PBB Michael Waltz menyebut tawaran terbaru Iran sebagai "upaya sinis untuk mengajukan sesuatu yang mereka sendiri tahu tidak dapat diterima."
"Presiden akan tetap membuka segala opsi untuk memastikan dunia aman dari ancaman Iran yang menyandera dunia dengan senjata nuklir," ujar Waltz.
Iran tetap pada pendiriannya untuk hanya membuka kembali Selat Hormuz yang krusial itu jika syarat-syarat mereka dipenuhi, meskipun mendapat kecaman dari Trump. Sementara itu, seorang petinggi militer Iran menegaskan kesiapan negaranya untuk terus bertempur.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyita sebuah kapal selam otonom milik AS, pada Minggu (27/9).
"Syarat-syarat kami jelas; setiap kemajuan menuju pembukaan Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan syarat-syarat tersebut, dan kami tidak akan mundur dari tuntutan itu," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam sebuah unggahan di saluran Telegram-nya yang diterjemahkan oleh Google.
"Dalam pertemuan kami dengan pihak penengah, syarat-syarat ini telah disampaikan, dijelaskan, dan diuraikan secara lengkap, dan pihak penengah kemudian menyampaikannya kepada pihak Amerika," ujarnya di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.
Dalam pernyataan terbarunya, Araghchi mengatakan pihak perantara antara AS dan Iran belum menyampaikan tanggapan resmi dari Trump kepada Teheran. "Hanya solusi melalui perundingan yang dapat memecahkan kebuntuan ini," ujarnya.
Syarat-syarat yang diajukan Teheran mencakup penghentian apa yang mereka sebut sebagai "tindakan agresi" AS, pengakhiran blokade laut dan perang ekonomi, serta pelepasan aset-aset Iran, demikian disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pekan lalu.
Para pemimpin militer Iran terus menegaskan kesiapan mereka untuk melanjutkan perang, yang bermula pada 28 Februari dengan serangan udara AS dan Israel terhadap negara tersebut.
"Perang belum berakhir," demikian kutipan pernyataan Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, oleh Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA). "Kita telah menang, namun kita harus mengukuhkan kemenangan ini; dan musuh agresor, yang telah menderita pukulan telak, harus terus bersiap menerima hantaman keras dari para prajurit Iran tercinta kita," ujarnya.
Drone Bawah Air
Sementara itu, angkatan laut IRGC mengklaim telah menangkap sebuah drone bawah air milik Amerika Serikat di Selat Hormuz, pada Minggu (27/9).
"Pasukan Angkatan Laut IRGC berhasil menangkap kendaraan bawah air nirawak (UUV) canggih milik militer teroris AS," demikian pernyataan Kantor Berita Tasnim dalam sebuah unggahan Telegram yang mengutip pihak IRGC.
Iran menyebut kendaraan tersebut sebagai kendaraan bawah air nirawak jenis Remus 600 dan menambahkan bahwa alat itu telah diserahkan kepada para ahli di kesatuan tersebut untuk pemulihan data.
"Angkatan Laut IRGC dengan tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz tertutup [bagi lalu lintas yang tidak memiliki izin]," bunyi pernyataan tersebut.
Komando Pusat AS (U.S. Central Command) tidak segera menanggapi permintaan komentar yang dikirimkan CNBC melalui surel.
Konflik tersebut telah sangat membatasi pengiriman energi dari Timur Tengah, menyebabkan lonjakan harga minyak serta memicu kekhawatiran akan percepatan inflasi global.
Namun, harga minyak mentah mencatat penurunan tajam sepanjang pekan ini seiring dengan dilakukannya diskusi antara Teheran dan Washington di sela-sela Sidang Umum PBB.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 2,3% dan ditutup pada level US$92,41 per barel. Brent, yang merupakan acuan internasional, turun 2,1% dan berakhir di angka US$104,32. Harga minyak mentah AS menutup pekan dengan penurunan 7,9%, sementara harga Brent cenderung stagnan.
Harga minyak WTI telah naik hampir 61% sejak awal tahun, sedangkan harga minyak mentah Brent mencatat kenaikan lebih dari 71% pada periode yang sama.