Top News: Transformasi PTBA dan Status Kerja Sama Danantara dengan BKSL
Selamat datang di rangkuman berita kemarin yang paling penting dan menarik di Top News Katadata.co.id. Kami telah mengumpulkan berita terbaik yang perlu Anda ketahui untuk tetap update dengan perkembangan terkini di berbagai sektor. Dari transformasi korporasi hingga isu-isu menarik lainnya, semuanya terangkum di sini.
Rangkuman ini mencakup berita mengenai transformasi Bukit Asam (PTBA) di balik akuisisi tambang baru dan penguatan logistiknya. Ada pula perkembangan dari Danantara yang mengungkap status kerja sama dengan Sentul City (BKSL) serta sinyal potensi garapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Selain itu, kami juga menghadirkan profil Joao Angelo De Sousa Mota, Direktur Utama Agrinas yang telah mengundurkan diri, dan membahas anggaran film Merah Putih: One For All yang disebut mencapai Rp 6,7 miliar. Tak ketinggalan, analisis dampak dari turunnya kasta emiten Boy Thohir (ADRO) dari MSCI Global Standard juga menjadi sorotan.
Inilah lima rangkuman berita terpopuler kemarin yang perlu Anda ketahui untuk memulai hari dengan informasi yang komprehensif. Mari simak detail lengkap dari setiap peristiwa penting tersebut.
Di Balik Transformasi Bukit Asam (PTBA): Akuisisi Tambang Baru, Perkuat Logistik
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tengah melakukan transformasi bisnis besar-besaran melalui empat pilar strategi diversifikasi untuk periode 2025-2029, sebagai respons terhadap tantangan global dan demi ketahanan energi nasional.
Strategi ini mencakup akuisisi tambang batubara baru dan perluasan infrastruktur logistik untuk mengatasi biaya transportasi yang tinggi. Selain itu, PTBA juga fokus pada hilirisasi batubara menjadi produk bernilai tambah seperti grafit buatan, asam humat, Dimethyl Ether (DME), Synthetic Natural Gas (SNG), metanol, dan amonia, serta pengembangan berbagai pembangkit listrik.
Meskipun PTBA mencatat penurunan laba bersih di Semester 1 2025 akibat penurunan harga batubara global dan peningkatan belanja modal, pendapatan perusahaan tetap tumbuh dan kondisi finansialnya sehat berkat peningkatan volume penjualan serta ekspansi pasar ekspor.
Melalui diversifikasi ini, PTBA menargetkan peningkatan volume produksi secara signifikan dan proyeksi peningkatan nilai tambah hingga lima kali lipat dari batubara, berpotensi mendongkrak pendapatan secara drastis. Ingin tahu lebih detail mengenai proyek-proyek inovatif PTBA dan bagaimana diversifikasi ini akan mengubah lanskap industri batubara nasional?. Baca berita selengkapnya
Danantara Ungkap Status Kerja Sama dengan Sentul City (BKSL), Sinyal Garap KEK?
Danantara Indonesia dan PT Sentul City Tbk (BKSL) dirumorkan akan membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kesehatan di lahan Sentul City, terinspirasi Bio-Town Chengdu. Namun, Danantara dan BKSL sama-sama mengklarifikasi bahwa tidak ada kesepakatan formal maupun tahap penjajakan terkait proyek tersebut. Danantara menegaskan setiap investasi strategis melalui proses tata kelola ketat dan kajian komprehensif untuk memastikan dampak positif bagi ekonomi nasional.
Meskipun ada penolakan, beberapa analis menilai pengumuman resmi KEK kesehatan kemungkinan akan segera dilakukan, sementara lahan Sentul City juga berpotensi besar untuk infrastruktur pusat data, menarik investasi besar seperti NeutraDC dan IndoKeppel. Selain itu, BKSL baru saja melepas 152 hektare lahan senilai Rp 2,05 triliun kepada Genting Plantations untuk pengembangan hunian mewah, yang diperkirakan akan meningkatkan nilai properti sekitar.
Perubahan susunan direksi BKSL dengan masuknya tokoh-tokoh senior dari kalangan pemerintah juga dipandang memperkuat posisi strategis perusahaan, menandakan arah baru yang menarik. Untuk memahami lebih dalam potensi dan arah strategis PT Sentul City Tbk di tengah berbagai perkembangan ini, baca artikel selengkapnya.. Baca berita selengkapnya
Profil Joao Angelo De Sousa Mota, Dirut Agrinas yang Mengundurkan Diri
Joao mengundurkan diri dari jabatan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara setelah enam bulan, dengan alasan birokrasi Badan Pengelola Investasi Danantara yang berbelit-belit menghambat Agrinas memperoleh anggaran dan memulai kegiatan. Ia menegaskan Danantara seharusnya mempercepat proses bisnis, bukan menciptakan prosedur yang panjang dan rumit.
Menanggapi hal ini, CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menghormati keputusan Joao dan menegaskan penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG) serta kajian kelayakan yang komprehensif dalam setiap keputusan. Proses ketat ini diklaim untuk menjaga keberlanjutan kinerja dan kepercayaan pemangku kepentingan. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang rekam jejak Joao dan bagaimana Danantara akan mengatasi masalah birokrasi ini, apa langkah selanjutnya yang akan diambil? Klik link berita berikut untuk membaca kelanjutannya.
Anggaran Film Merah Putih: One For All Disebut Rp 6,7 Miliar, Jumbo Berapa?
Film animasi "Jumbo" berhasil menarik perhatian lebih dari 10 juta penonton dengan anggaran kurang dari Rp 48,8 miliar, melibatkan 420 kreator lokal selama lima tahun. Kisahnya tentang seorang anak bernama Don yang dirundung, menemukan peri melalui buku warisan orang tuanya. Kesuksesan film ini didorong oleh promosi sukarela netizen yang membuat meme, video, dan cover lagu, bahkan menjuluki diri mereka "Buzzer Jumbo".
Berbanding terbalik, film animasi "Merah Putih: One For All" yang beranggaran Rp 6,7 miliar justru menuai kritik netizen terkait kualitas gambar dan alur cerita yang akan tayang Agustus mendatang. Konten kreator bahkan menuduh film ini menggunakan aset yang dibeli dari marketplace, meskipun tuduhan tersebut dibantah oleh sutradara dan produser eksekutifnya. Sutradara Hanung Bramantyo turut mengomentari anggaran tersebut yang disebutnya hanya cukup untuk tahap awal produksi, lantas, apa implikasinya terhadap kualitas akhir film ini menurutnya?. Klik berita ini untuk membaca kelanjutannya
Turun Kasta Emiten Boy Thohir (ADRO) dari MSCI Global Standard, Apa Dampaknya?
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADRO) telah didepak dari indeks MSCI Global Standard dan kini masuk dalam deretan MSCI Small Cap. Perubahan ini bukan semata akibat penurunan kinerja, melainkan imbas dari restrukturisasi besar melalui spin-off unit infrastruktur menjadi PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) pada tahun 2024. Langkah tersebut memindahkan sebagian kapitalisasi dan likuiditas ADRO ke AADI, yang justru langsung masuk ke MSCI Small Cap kurang dari setahun setelah IPO.
Meskipun status indeks berubah, analis menilai prospek ADRO tetap terbuka, didukung transformasi bisnis menuju logam rendah emisi, aluminium hijau, dan energi bersih, dengan potensi dividen menarik di tengah tren transisi energi. Pergeseran ini menunjukkan strategi grup Adaro untuk memisahkan fokus bisnis, di mana AADI kini membawa narasi pertumbuhan baru di sektor infrastruktur energi. Lalu, bagaimana perusahaan ini akan menghadapi tantangan dan peluang di tengah transformasi besar ini untuk mempertahankan daya tariknya di mata investor?. Lanjut berita berikut.