Raja Juli Gagal Mendarat di Kalbar, Angkasa Pura Ungkap Penyebabnya
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni bersama jajarannya gagal mendarat di Bandara Supadio, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Kamis (3/9). Direktur Utama Angkasa Pura Indonesia Muhammad Rizal Pahlevi mengatakan hal ini disebabkan karena faktor jarak pandang yang terhalang.
“Maskapai itu punya standarisasi untuk visibilitas dari pandangan pilot atau kokpit ke landasan. Selama itu ada pandangan yang terhalang untuk alasan keselamatan pasti dibatalkan,” kata Rizal saat ditemui di Kompleks DPR RI, Kamis (3/9).
Rizal menyebut saat ini ada beberapa bandara yang mengalami gangguan imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah daerah di Indonesia. Dia menyontohkan ada dua bandara yang terdampak karhutla berada di Palangkaraya, Kalimantan Tengah dan bandara di Medan, Sumatra Utara.
“Tapi kemarin yang Medan sudah kembali normal. Sekarang saya sedang memantau Bandara Pekanbaru karena terkena hembusan angin (karhutla), tapi sejauh ini bandara disana tidak terdampak,” ujarnya.
Dia menyebut perusahaan akan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memastikan keselamatan penerbangan.
Kabut Asap Karhutla
Senada dengan Rizal, Pemerintah Kalimantan Barat juga menyebut alasan gagalnya Raja Juli mendarat disana karena kabut asap tebal dampak karhutla menyelimuti kawasan bandara.
"Di tempat kita ini beliau batal datang karena kabut asap dan jarak pandang hanya bisa 100 meter saja. Sehingga pesawat tidak berani untuk landing," kata Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan dikutip dari Antara, Kamis (3/9).
Kondisi jarak pandang yang hanya sekitar 100 meter membuat pesawat yang ditumpangi Menhut tidak berani mendarat dan kunjungannya ke Kalbar terpaksa ditunda.
Gubernur Norsan mengatakan, apabila kondisi cuaca dan jarak pandang membaik, Menhut Raja Juli Antoni diupayakan tetap hadir di Kalbar untuk melanjutkan agenda yang telah disiapkan, atau paling lambat dijadwalkan kembali pada hari berikutnya.
Dalam kunjungan ke Kalbar, Menhut dijadwalkan akan meninjau tiga lokasi yang terdampak karhutla, yakni kawasan Limbung, sekitar SMA Negeri 4, dan Rasau Jaya.
Setelah peninjauan lapangan, agenda dilanjutkan dengan rapat koordinasi bersama sejumlah pemangku kepentingan yang terlibat dalam penanganan karhutla di Kalbar.
Ia mengatakan, pemerintah juga menyiapkan dukungan berupa bantuan peralatan untuk memperkuat penanganan kebakaran, termasuk pompa air dan berbagai perlengkapan lainnya dari Kementerian Kehutanan.
"Bantuan rencana pompa air, peralatan-peralatan yang akan dibantu dari Kementerian Kehutanan. Kemudian, makanan dan minuman, obat-obatan, masker dan lain sebagainya," ujarnya.