Tingkatkan Serapan Gabah, Bulog Masih Terkendala Kapasitas Gudang

ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Buruh tani membawa gabah usai panen di salah satu kawasan lumbung padi di Desa Paron, Ngawi, Jawa Timur, Jumat (10/3). Pemerintah melalui Kementerian Pertanian berupaya mengejar produksi gabah nasional pada tahun 2017 yang ditargetkan mencapai 78 juta ton atau meningkat 2 juta ton dari target tahun 2016 agar tidak perlu lagi melakukan impor beras.
Penulis: Michael Reily
Editor: Ekarina
15/5/2018, 20.22 WIB

Perum Bulog  akan meningkatkan pendekatan penyerapan gabah untuk menghindari kenaikan harga karena rantai pasok beras yang panjang. Dengan penyerapan gabah langsung dari petani, diharapkan bisa menekan harga beras di tingkat konsumen menjadi lebih murah.

Meski demikian,  Bulog mengakui masih ada kendala dalam hal serapan gabah khususnya dalam penyediaan fasilitas pergudangan.

Direktur Pengadaan Bulog Andrianto Wahyu Adi menyatakan  gudang Bulog yang tersebar di Indonesia saat ini hanya berkapasitas sekitar  3,9 juta ton. Untuk mencapai  pasokan beras 1 juta ton sampai 1,5 juta ton,  diperlukan pasokan gabah sekitar 3 juta ton. 

(Baca : Mentan Minta Bulog Potong Rantai Pasokan untuk Tambah Serapan Gabah)

Dengan keterbatasan fasilitas,  maka Bulog  akan berfokus terhadap pengadaan beras.

“Gudang kami sebenarnya cukup asal petani memiliki pengering,” kata Andrianto, Senin (14/5).

Ketersediaan pengering, menurut Andrianto akan membantu petani untuk menghasilkan produksi gabah yang berkualitas  sehingga dapat memotong rantai pasok tengkulak.

Dengan begitu, petani tidak harus menjual hasil produksi kepada pengepul, karena gabah  bisa dijual ke Bulog. Kementerian Pertanian sudah menyediakan anggaran sebesar Rp 1 triliun untuk 1.000 unit pengering yang dibagikan kepada Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan).

Halaman: