Brasil Tolak Seruan untuk Merelokasi COP30 Meski Biaya Akomodasi Melambung

COP30 Brasil Amazonia/Raffa Neddermeyer
Brasil menolak seruan untuk memindahkan konferensi iklim global COP30 yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang di Kota Belém, Amazon.
Penulis: Hari Widowati
5/8/2025, 08.18 WIB

Brasil menolak seruan untuk memindahkan konferensi iklim global COP30 yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang di Kota Belém, Amazon. Tekanan dari para delegasi terkait melonjaknya harga akomodasi di kota itu tidak menggoyahkan pendirian Brasil.

"COP akan diadakan di Belém, pertemuan para pemimpin akan diadakan di Belém. Tidak ada rencana B," kata André Correa do Lago, Presiden COP30, kepada wartawan pada hari Jumat (1/8), seperti dikutip Reuters.

Namun, kekhawatiran tentang logistik, telah mendominasi pembicaraan pra-KTT. Negara-negara berkembang telah memperingatkan bahwa mereka tidak mampu membayar harga akomodasi di Belem, yang telah melonjak di tengah kekurangan kamar.

Correa do Lago mengungkapkan, pekan lalu, perwakilan dari beberapa negara menekan Brasil untuk memindahkan konferensi dari Belem selama pertemuan darurat di biro iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Hal itu memicu serangkaian kekhawatiran yang diangkat oleh anggota sekretariat iklim PBB, yang dikenal sebagai UNFCCC, kepada Brasil selama berbulan-bulan mengenai harga dan kurangnya akomodasi di Belem.

Pada pertemuan biro COP bulan lalu, UNFCCC memberi tahu para peserta bahwa mereka telah memberikan saran kepada Brasil mengenai potensi pemindahan bagian-bagian dari COP30. Misalnya, bagian di mana para pemimpin dunia berbicara di luar Belem untuk mengurangi tekanan pada akomodasi, menurut ringkasan pertemuan biro COP yang dilihat oleh Reuters.

Brasil menolak ide tersebut. UNFCCC menolak berkomentar.

Kepresidenan Brasil mengatakan dalam sebuah pernyataan menyatakan tidak ada diskusi mengenai perubahan kota tuan rumah untuk COP30. Pemerintah Brasil menegaskan kembali komitmennya untuk mengadakan konferensi iklim yang komprehensif, inklusif, dan mudah diakses.

Pemerintah Para mengatakan kepada Reuters bahwa mereka terus-menerus berhubungan dengan hotel, pemilik tanah, dan agen real estat untuk memperkuat perlunya tanggung jawab dan praktik yang baik. Namun, mereka menyatakan hukum Brasil tidak mengizinkan campur tangan pemerintah dalam proses yang diatur oleh negosiasi bebas.

Hotel-hotel di Belém jumlahnya sedikit. Meskipun ada permintaan dari pemerintah, mereka mengenakan biaya 10 atau bahkan 15 kali lipat dari harga normal.

"Mungkin hotel-hotel tersebut tidak menyadari krisis yang mereka ciptakan," kata Correa do Lago.

Brasil Sudah Investasikan Ratusan Juta Dolar untuk Infrastruktur Belem

Negara-negara tidak hanya khawatir tentang akomodasi. Mereka juga khawatir apakah kamar-kamar yang ditawarkan kepada delegasi akan cukup berdekatan sehingga negosiasi dapat berjalan lancar. Mereka juga khawatir apakah akan ada cukup banyak pilihan makanan dan apakah bandara lokal akan mampu menangani masuknya pengunjung.

Namun, Brasil menegaskan persiapan untuk konferensi tersebut berjalan sesuai rencana. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva tidak menunjukkan keinginan untuk menarik kembali janjinya untuk mempersembahkan hutan hujan Amazon kepada dunia di COP30.

Pemerintahannya telah menginvestasikan ratusan juta dolar untuk meningkatkan infrastruktur di Belém untuk menjadi tuan rumah konferensi, membantu Gubernur negara bagian Helder Barbalho menarik investasi publik, dan asing.

Sekutu politik lama, Barbalho, membantu Lula memenangkan pemilihan di Pará pada tahun 2022, dan akan menjadi elemen kunci untuk kampanye presiden tahun depan. Lula dan Barbalho tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Brasil menawarkan 10 hingga 15 kamar dengan harga hingga US$ 220 atau Rp 3,6 juta (kurs Rp 16.390/US$) per malam kepada delegasi negara-negara yang dianggap sebagai negara kurang berkembang di dunia. Tetapi jumlah itu melebihi dari US$ 146 atau Rp 2,39 juta yang ditawarkan PBB kepada diplomat negara-negara tersebut untuk membayar akomodasi, makanan, dan transportasi.

Correa do Lago mengungkapkan masalah infrastruktur mengganggu pada saat yang seharusnya digunakan untuk membahas masalah substantif.

Pada hari Jumat (1/8), Brasil membuka platform pemesanan untuk umum. Pada Senin pagi, situs web tersebut menunjukkan daftar tunggu hampir 2.000 orang, tetapi Reuters dapat mengaksesnya setelah menunggu satu jam. Situs itu menunjukkan tarif mulai dari US$ 360 (Rp 5,9 juta) hingga US$ 4.400 (Rp 72,12 juta) per malam.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.