Ancaman Buat RI: Saat Baterai Bekas Mobil Listrik Jadi Tambang Mineral
Satu atau dua dekade lagi, Cina mungkin tidak perlu lagi terlalu bergantung pada tambang aneka mineral termasuk nikel Indonesia. Bukan karena menemukan cadangan mineral baru, tapi karena memiliki jutaan mobil listrik yang sudah pensiun.
Baterai kendaraan yang sudah pensiun masih menyimpan nikel, litium, kobalt, mangan hingga tembaga yang bisa dipisahkan, dimurnikan, lalu dipakai kembali untuk membuat baterai baru. Artinya, sumber daya mineral masa depan ada di jalan raya sekarang.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan baterai kendaraan listrik bekas akan menjadi sumber utama bahan baku industri daur ulang dunia pada pertengahan 2030-an. Sebab, umur pakai baterai rata-rata mencapai 15 tahun. Sedangkan ledakan penjualan kendaraan listrik di Cina baru dimulai sekitar 2015, sedangkan di Amerika Serikat dan Eropa setelah 2020.
"Daur ulang baterai masih akan didominasi limbah produksi pabrik hingga baterai bekas kendaraan listrik menjadi sumber utama bahan baku pada pertengahan 2030-an," demikian tertulis dalam laporan IEA Global EV Outlook 2026.
Dari Pasar EV Jadi Tambang Mineral
Menurut laporan IEA, sekitar 80 juta mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle atau BEV) maupun plug-in hybrid beroperasi secara global pada 2025. Lebih dari separuhnya berada di Cina, disusul Eropa dan Amerika Serikat.
Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan kendaraan listrik juga mulai meluas ke negara-negara berkembang. Sebelas negara berkembang bahkan menambahkan sekitar satu juta kendaraan listrik baru sepanjang 2025, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, tidak semua negara memiliki volume kendaraan listrik yang cukup untuk mendukung pengembangan segera industri daur ulang berskala besar.
Sebuah studi bertajuk Global Material Flow Analysis of End-of-Life of Lithium Nickel Manganese Cobalt Oxide Batteries from Battery Electric Vehicles, memproyeksikan pada 2038 sejumlah negara akan memiliki akumulasi baterai NMC (nickel-manganese-cobalt) bekas dalam jumlah sangat besar sehingga pembangunan fasilitas daur ulang berskala besar menjadi layak secara ekonomi.
Cina diperkirakan menjadi pemimpin dunia dalam pemulihan material baterai NMC, disusul Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Ketiga negara itu diproyeksikan menjadi pusat baru pemulihan nikel, kobalt, litium, dan logam penting lainnya karena memiliki stok baterai bekas yang sangat besar.
Korea Selatan sendiri memiliki posisi penting karena merupakan salah satu produsen kendaraan listrik dan baterai terbesar dunia melalui Hyundai, LG Energy Solution, dan Samsung SDI.
Cina Bergerak Cepat
Menurut IEA, Cina kini menguasai lebih dari 85 persen kapasitas daur ulang baterai global, ditopang posisinya sebagai pasar kendaraan listrik dan produsen baterai terbesar di dunia. Kapasitas pabrik sangat besar hingga kekurangan bahan baku.
"Saat ini kapasitas daur ulang baterai di dunia jauh melampaui jumlah bahan baku yang tersedia untuk diolah," tulis IEA. Sebab, mayoritas mobil listrik masih beroperasi sehingga baterai yang mencapai akhir umur pakai masih terbatas.
Untuk mengisi kekosongan itu, Cina mulai membuka keran impor. Sejak Agustus 2025, pemerintah mengizinkan kembali impor black mass. Ini adalah serbuk hitam hasil penghancuran baterai lithium-ion bekas yang kaya litium, nikel, kobalt, dan logam penting lainnya. Tarif impornya pun dipangkas mulai awal 2026.
IEA menilai dampaknya mungkin belum terasa dalam jangka pendek, tapi kemungkinan akan terasa dalam jangka menengah. “Sebagian black mass dari berbagai negara berpotensi mengalir ke China, tertarik oleh kapasitas daur ulang yang besar, teknologi yang matang, dan biaya pemrosesan yang lebih murah,” tulis IEA.
Meski begitu, industri daur ulang yang terlanjur besar ini bukan tanpa risiko. Masalahnya, regulasi di negara lain bisa saja menghambat aliran black mass ke depan.
Selain itu, ada tantangan lain. Produsen kendaraan listrik kini semakin banyak beralih ke baterai lithium iron phosphate (LFP) dan mulai melirik baterai natrium-ion yang mengandung lebih sedikit mineral bernilai tinggi seperti nikel dan kobalt.
"Perubahan ini menjadi tantangan bagi bisnis daur ulang yang selama ini mengandalkan nilai ekonomi dari mineral-mineral penting yang berhasil dipulihkan," tulis IEA.