Pemilahan Sampah dari Hulu Berisiko Kurangi Pasokan PSEL, Apa Solusinya?

ANTARA FOTO/Syaiful Arif/tom.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat (kiri) didampingi Wakil Bupati Jombang Salmanuddin Yazid dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Miftahul Ulum meninjau proyek Emission Reduction in Cities Solid Waste Management (ERiC-I) dengan teknologi bianna di TPA Banjardowo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Rabu (15/7/2026).
23/7/2026, 16.06 WIB

Proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) berisiko kekurangan sampah. Pasalnya, program pemilahan sampah dari hulu berpotensi mengurangi jumlah sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Lantas, bagaimana solusinya, sedangkan tender proyek PSEL sudah kadung berjalan untuk sejumlah wilayah.  

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan telah berbicara dengan Danantara agar tidak menggunakan data timbulan sampah harian saat ini sebagai acuan pasokan. Pasalnya, pemerintah juga tengah menggalakkan pemilahan sampah dari hulu. 

Danantara disebut sepakat soal itu. “Jangan langsung putuskan jumlah timbulan sampah itu-lah yang akan menjadi PSEL. Saya sudah katakan berkali-kali dan dia menyetujui,” kata Jumhur saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rabu (22/7). 

Jumhur menjelaskan, bila Jakarta dengan timbulan sampah harian 9.000 ton berhasil mencapai target pemilahan sampah 40 persen saja, maka ada 3.600 ton sampah yang tidak masuk ke TPA. Sampah ini akan diambil warga maupun industri untuk diolah kembali alias tak akan menjadi bahan bakar PSEL.

Pelaku industri daur ulang di dalam negeri disebut Jumhur sudah mengutarakan kesiapan untuk menampung sampah plastik dan jenis lain yang bisa didaur ulang. 

Saat ini, Danantara masih terus memproses tender pengembangan PSEL di berbagai wilayah Indonesia. Fasilitas ini jadi solusi pengelolaan sampah untuk wilayah dengan kelolaan sampah besar di atas seribuan ton per hari.

Sejauh ini, sebanyak 10 perusahaan/konsorsium telah ditetapkan sebagai pemenang untuk menggarap 11 proyek di lokasi berbeda. Proyek PSEL di Denpasar menjadi salah satu yang sudah mulai digarap pembangunannya. 

Lantas, apa solusinya agar PSEL-PSEL ini beroperasi optimal? Opsinya, cakupan wilayah yang dilayani PSEL-PSEL tersebut ke depan diperluas. “Itu nanti wilayah aglomerasinya bisa ditambah,” kata dia.

Sebelumnya, Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Sjahrir menyebut solusi lain yaitu pengembang akan dilibatkan di aspek hulu, termasuk pengangkutan sampah. Keterlibatan ini di antaranya dengan investasi untuk menambah truk listrik yang mengangkut sampah menuju fasilitas PSEL. 

Kekurangan Pasokan, Industri Daur Ulang Minta PSEL Pakai Sampah Tak Ekonomis  

Ditemui terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Daur Ulang Indonesia (ADUPI) Hadiyan Fariz meminta pemerintah agar tidak membiarkan seluruh sampah masuk ke proyek sampah menjadi listrik dan BBM. 

Menurut dia, semestinya jenis sampah yang digunakan untuk kedua proyek tersebut adalah yang sulit diolah kembali atau tidak ekonomis untuk didaur ulang. “Jangan sampai dia memakan bahan baku dari industri lain yang secara nilai ekonomi lebih tinggi,” ujar Fariz kepada Katadata, Juni lalu.

Pasalnya, tanpa PSEL pun, industri daur ulang sudah kelimpungan akibat kekurangan pasokan. Dari total kapasitas pabrik daur ulang domestik yang sekitar 3 juta ton per tahun, yang terpakai saat ini baru sekitar 1,4 juta ton. 

“Jadi bisa dibayangkan, kalau ada pabrik daur ulang itu setengahnya menganggur,” kata Fariz.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas