Pupuk Indonesia Optimistis Capai Net Zero Emission Lewat Revitalisasi Pabrik

ANTARA FOTO/ Yudi Manar/wpa.
Petugas melakukan uji tanah gratis di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Kamis (27/2/2025).
30/1/2026, 09.48 WIB

PT Pupuk Indonesia (Persero) optimistis dapat berkontribusi signifikan dalam pencapaian target net zero carbon emission nasional pada 2060 melalui upaya revitalisasi pabrik dan peningkatan efisiensi industri.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad mengatakan, langkah dekarbonisasi yang dilakukan Pupuk Indonesia Group sejalan dengan roadmap net zero emission yang ditetapkan pemerintah.

“Terkait net zero carbon emission, kita mengikuti roadmap pemerintah. Revitalisasi pabrik yang kita lakukan menjadikan industri lebih hijau karena bahan baku yang dipakai lebih sedikit dan emisinya berkurang,” kata Rahmad kepada Katadata.co.id, Jumat (30/1).

Ia menegaskan, tanpa langkah revitalisasi, industri pupuk akan berjalan dalam skema business as usual yang membuat emisi karbon sulit ditekan. Padahal, pemerintah menargetkan Indonesia mencapai net zero carbon emission pada 2060.

“Revitalisasi pabrik menjadi langkah paling utama karena meningkatkan efisiensi. Artinya, emisinya juga ikut berkurang. Ini bagian dari perjalanan kita menuju target tersebut,” ujarnya.

Dalam peta jalan pengurangan emisi, Rahmad menjelaskan bahwa Pupuk Indonesia menargetkan penurunan emisi 28% pada 2030. Namun, dengan berbagai langkah yang kini dijalankan, capaian tersebut diproyeksikan bisa melampaui target.

“Dengan eksekusi langkah-langkah ini, mudah-mudahan kami bisa mencapai pengurangan emisi sekitar 31% – 32%. Jadi kami masih on the track,” kata dia.

Dia mencontohkan, di pabrik Pupuk Kaltim pihaknya telah mulai meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan. Di kawasan pabrik Pupuk Kaltim, panel surya berkapasitas 2 megawatt telah terpasang di atap gedung-gedung operasional, dan langkah serupa diterapkan di anak perusahaan lainnya.

“Kami juga mulai mengintroduksi teknologi boiler batu bara dengan emisi lebih rendah sekitar 5%. Jadi banyak langkah yang sudah dan sedang kita lakukan,” Rahmad menambahkan. 

Ia menyampaikan sebagian besar emisi industri pupuk berasal dari penggunaan bahan baku, bukan dari konsumsi listrik. Oleh karena itu, modernisasi pabrik dinilai menjadi kunci utama untuk menurunkan jejak karbon secara signifikan.

Pupuk Indonesia melalui Pupuk Kaltim baru saja meresmikan proyek Revamping Ammonia Pabrik-2. Proyek ini mampu menurunkan konsumsi energi minimum sebesar 10% atau setara 4 MMBtu per ton amonia, sekaligus menekan emisi hingga 110.000 ton CO? ekuivalen per tahun melalui penghematan penggunaan gas alam.

Ke depan, Rahmad menegaskan Pupuk Indonesia akan mengombinasikan berbagai strategi, mulai dari efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, hingga penerapan nature-based solution untuk mengimbangi emisi yang tidak dapat dihilangkan dari proses produksi.

“Namanya proses industri, tetap ada emisi. Tapi kalau semua langkah ini dikombinasikan, insha Allah menuju net zero carbon emission 2060, kami masih cukup optimis,” kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah