CCS Global Melonjak, Indonesia dan Australia Berebut Hub Karbon Asia Pasifik

Global CCS Institute
Terdapat lebih dari 700 proyek fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) komersial yang dalam pengembangan, dalam konstruksi, dan beroperasi di 2025. Indonesia dan Australia berebut posisi sebagai hub karbon Asia Pasifik.
30/1/2026, 18.44 WIB

Terdapat 77 fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) komersial yang beroperasi di dunia pada 2025, dengan kapasitas penangkapan 64 juta ton per tahun. Ini berdasarkan laporan bertajuk Global Status of CCS Report 2025 yang dirilis Global CCS Institute pada Oktober tahun lalu.

Ini menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya, yaitu kenaikan 54 persen dalam jumlah proyek beroperasi dan 20 persen dalam kapasitas penangkapan karbon.

Selain yang beroperasi, terdapat 47 fasilitas dalam proses pembangunan, 297 fasilitas berstatus pengembangan lanjut, dan 313 fasilitas dalam pengembangan awal. Dengan demikian, total ada 734 proyek CCS yang sudah beroperasi, dalam masa konstruksi, maupun dalam pengembangan hingga tahun lalu.

Dengan melihat perkembangan ini, Global CCS Institute memperkirakan kapasitas penangkapan karbon global bisa naik lima kali lipat dalam lima tahun. "Mengingat adanya proyek-proyek yang sedang dikembangkan, kapasitas operasional total dapat meningkat menjadi 337 juta ton/tahun dalam lima tahun ke depan, dari 64 juta ton/tahun saat ini,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.

Industri pengadopsi CCS tercatat beragam. Namun, industri yang memiliki kapasitas penangkapan karbon terbesar yaitu pengolahan gas alam; pupuk/amonia/hidrogen; serta pembangkit listrik dan panas. 

Sejauh ini, wilayah dengan kapasitas penangkapan karbon terbesar yaitu Amerika Utara dan Amerika Selatan. Namun, kondisinya kemungkinan berubah pada 2030. Amerika Utara tetap yang terbesar, namun Amerika Selatan bakal tersalip oleh Eropa, Asia Pasifik, dan Timur Tengah.  

Menurut Global CCS Institute, peningkatan proyek CCS dipicu antara lain oleh kebijakan yang mendukung, kepentingan komersial, dan meningkatnya pengakuan CCS sebagai solusi krisis iklim. Meski begitu, estimasi capaian di 2030 dinilai masih jauh dari kapasitas yang dibutuhkan untuk mengejar target perjanjian pengendalian iklim global. 

Sekadar informasi, pemanfaatan CCS untuk pengendalian karbon masih menuai pro-kontra. Penyebabnya antara lain, rekam jejak CCS belum konsisten. Sejumlah proyek di dunia dilaporkan gagal mencapai target penangkapan karbon atau bahkan dihentikan karena masalah teknis dan ekonomi. Hal ini membuat sebagian kalangan meragukan klaim CCS sebagai solusi skala besar.

Indonesia dan Australia Jadi Negara dengan Proyek CCS Terbanyak Se-Asia Pasifik

Masih berdasarkan laporan yang sama, terdapat 54 proyek CCS di Asia Pasifik, dan sebagian besar berada di Indonesia dan Australia. Bila mengacu pada data pemerintah Indonesia, terdapat 19 proyek penangkapan, penyimpanan, dan pemanfaatan karbon (CCS/CCUS) yang tengah diproses di dalam negeri. Proyek-proyek ini tersebar di berbagai wilayah kerja hulu migas.

Global CCS Institute menyebut, kerja sama lintas negara menjadi faktor kunci bagi berkembangnya teknologi CCS di Asia Pasifik. Dalam beberapa tahun belakangan, pemerintah di kawasan ini mulai merundingkan perjanjian yang memungkinkan karbon dioksida (CO2) ditangkap di satu negara lalu diangkut dan disimpan di negara lain.

Negara dengan keterbatasan ruang penyimpanan seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura menjajaki skema ekspor karbon. Sebaliknya, negara dengan potensi geologi besar untuk penyimpanan karbon, termasuk Indonesia, mulai menyusun regulasi, perizinan dan model bisnis CCS untuk menangkap prospek sebagai hub atau pusat penyimpanan karbon kawasan.

Indonesia, Australia, dan Malaysia disebut sebagai negara-negara yang paling maju dalam soal kebijakan atau regulasi CCS sehingga berpotensi jadi hub.

Yang masih menjadi tantangan pengembangan CCS di kawasan Asia Pasifik antara lain masih banyaknya negara yang belum punya kerangka kebijakan yang komprehensif soal penangkapan, pengiriman, dan penyimpanan karbon. Selain itu, belum adanya insentif untuk meringankan biaya penerapan teknologi CCS di luar sektor migas. 

Pemerintah Indonesia mengklaim potensi penyimpanan karbon mencapai 572,77 gigaton untuk saline aquifer (akuifer yang airnya asin) dan 4,85 gigaton di depleted reservoir (akuifer yang airnya habis), terbesar di Asia Pasifik.

Proyek CCS dengan perkembangan paling maju adalah proyek Tangguh Ubadari Ubadari CCUS dan Compression (Tangguh UCC) garapan British Petroleum (BP) di Teluk Bintuni, Papua Barat. Proyek tersebut tengah dalam tahap konstruksi dan ditargetkan bisa beroperasi pada 2028. Fasilitas CCS yang dibangun BP berskala besar dan berpotensi menjadi CCS Hub pertama di Indonesia, dengan potensi kapasitas penyimpanan CO2 sekitar 1,8 gigaton. 

Peta Proyek CCS Asia Pasifik 2025 (Global CCS Institute)
 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.