Titik Panas Berhamburan di Asia Tenggara dan Ancaman Tahun Terpanas

NASA
Citra satelit NASA menunjukkan titik panas (hotspot) berhamburan di wilayah Asia Tenggara.
25/2/2026, 14.09 WIB

Risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap meningkat beberapa bulan ke depan seiring musim kering. Apalagi, ada risiko kemunculan El Nino yang berpotensi membuat tahun ini menjadi salah satu tahun terpanas. Citra satelit NASA menunjukkan titik panas (hotspot) berhamburan di wilayah Asia Tenggara. 

Saat berita ini ditulis, Rabu (25/3), citra 24 jam terakhir menunjukkan, titik panas menutupi sebagian besar wilayah Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Di Indonesia, hotspot banyak terekam terutama di Pulau Sumatra. Titik panas juga bermunculan di Malaysia hingga Filipina yang diapit Samudra Pasifik.

Satu dekade lalu, pada 2015, fenomena El Niño dan fase positif Indian Ocean Dipole menciptakan kondisi kering ekstrem yang memicu kebakaran besar di Sumatra dan Kalimantan. Dampaknya, polusi asap berbahaya berlangsung lama dan menyelimuti sebagian besar Asia Tenggara.

Pemerintah Singapura telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kabut asap dalam beberapa minggu ke depan. Berdasarkan kajian Lembaga Meteorologi Singapura, jumlah titik panas diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan mendatang di wilayah sekitar Negeri Merlion akibat pola angin dan kondisi yang lebih kering karena north-east monsoon.

“Ini bisa berdampak pada situasi berasap yang memengaruhi Singapura,” ujar Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Grace Fu di parlemen pada pertengahan Februari, seperti dikutip The Straits Times. Singapura terakhir mengalami episode asap parah pada 2013 dan 2015.

Profesor Emeritus Fredolin Tangang dari Universiti Kebangsaan Malaysia menyebut peluang terjadinya El Nino pada semester kedua tahun ini mencapai 60–70 persen dan berpotensi berlanjut hingga 2027. Jika itu terjadi, 2026 dan 2027 bisa menjadi tahun terpanas bagi Malaysia, melampaui 2024.

“Ini juga bisa menyebabkan Indonesia mengalami kondisi yang lebih kering dan lebih panas,” kata dia, seperti dikutip AsiaOne.

Suhu maksimum di berbagai wilayah Indonesia semakin meningkat. Mengacu pada data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah Indonesia mengalami kenaikan suhu maksimum yang cukup signifikan dalam 44 tahun terakhir. Beberapa wilayah mencatat kenaikan suhu tertinggi antara 1,5 hingga 3 derajat celsius. 

Kombinasi tren pemanasan dan potensi El Nino meningkatkan kerentanan terhadap karhutla. Aktivitas pembakaran untuk pembukaan lahan yang masih kerap terjadi di Indonesia berisiko memicu kebakaran yang sulit dikendalikan. Sebab, saat lahan mengering, api lebih mudah dan cepat menyebar. Jika terlambat diantisipasi, Indonesia bisa kembali menjadi kontributor kabut asap di kawasan.

Laju Perubahan Suhu Udara Maksimum (BMKG)
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.