Prancis punya rencana ambisius di bidang kelistrikan. Prancis baru saja merilis peta jalan mendetail untuk berhenti menggunakan minyak, gas, dan batu bara sebagai sumber energi. Prancis berniat menghapus batu bara dari jaringan listrik nasionalnya pada 2027, mengakhiri ketergantungan pada minyak pada 2045 dan gas pada 2050.
Utusan Iklim Prancis Benoit Faraco mengatakan Prancis ingin menjadi negara adidaya listrik. “Kami ingin menjadi Arab Saudi-nya Eropa dalam bidang listrik, menjual elektron hijau ke Inggris, Irlandia, Jerman, dan negara-negara lain,” ujarnya dalam Konferensi Global Transisi dari Energi Fosil di Kolombia, dikutip dari Guardian, Kamis (30/4).
Selama beberapa dekade, Prancis memenuhi sebagian besar kebutuhan listriknya dari pembangkit tenaga nuklir. Ke depan, ini akan semakin diperkuat dengan peningkatan pembangkit energi terbarukan.
Saat ini, Prancis bisa disebut sebagai salah satu negara yang terdepan dalam soal produksi listrik bersih. Berdasarkan data International Energy Association (IEA), produksi listrik dari pembangkit nuklir Prancis mencapai 380 ribu Gigawatt hour pada 2024. Ini setara 67 persen dari total produksi listrik nasional.
Sedangkan produksi listrik dari pembangkit energi terbarukan sudah jauh lebih besar dibandingkan dengan pembangkit berbahan bakar batu bara, gas, dan minyak.
Electricity Mix Prancis (IEA)
Peta Jalan Transisi Energi Prancis
Prancis merilis peta jalan transisi energinya di Konferensi Global Transisi dari Energi Fosil yang baru-baru ini digelar di Santa Marta, Kolombia.
Berikut sederet rencana transisi energi Prancis, seperti dikutip dari media Prancis France24.
Target Penurunan Konsumsi Nasional Bahan Bakar Fosil
Prancis menargetkan penurunan porsi bahan bakar fosil dalam konsumsi energi final menjadi 40 persen pada 2030 dan 30 persen pada 2035. Tujuan akhirnya adalah mencapai netralitas karbon pada 2050.
Konsumsi final merujuk pada energi yang digunakan oleh pengguna akhir seperti rumah tangga, industri, dan pertanian. Sebagai gambaran, porsi bahan bakar fosil mencapai 65 persen pada 2011, namun sudah turun ke bawah 60 persen pada 2023 lalu.
Target Penghentian Energi Fosil pada Pembangkit Listrik dan Transportasi
Prancis menargetkan penghentian penggunaan bahan bakar fosil untuk kebutuhan energi pada 2050.
Untuk itu, Prancis berencana menutup dua pembangkit listrik tenaga batu bara terakhirnya pada 2027. Negara itu juga ingin beralih dari minyak pada 2045 melalui “elektrifikasi besar-besaran” di sektor transportasi.
Selain itu, Prancis menetapkan target 2050 untuk menghentikan penggunaan gas fosil dengan mengembangkan metode pemanasan alternatif serta meningkatkan efisiensi energi di bangunan.
Mengutip IEA, alternatif yang tengah dikembangkan antar lain pembangkit listrik termal yang menghasilkan listrik dengan menjaring panas dari pembakaran bahan bakar atau reaksi nuklir.
Target Adopsi dan Produksi Mobil Listrik
Prancis menargetkan dua dari tiga mobil baru yang terjual pada 2030 adalah mobil listrik. Prancis juga merencanakan pembangunan stasiun pengisian daya serta pengoperasian bus dan truk besar listrik.
Produsen dalam negeri diharapkan memproduksi 400 ribu kendaraan listrik pada 2027 dan satu juta unit pada 2030. Tujuannya adalah memastikan bahwa “pengurangan ketergantungan pada minyak tidak berubah menjadi ketergantungan baru pada kendaraan impor,” demikian isi dokumen tersebut.
Target Transisi Bahan Bakar Pemanas Ruangan
Prancis melarang pemasangan boiler berbahan bakar gas -- yang biasa digunakan untuk memanaskan air dan ruangan -- di bangunan baru mulai akhir tahun ini.
Pemerintah juga ingin mengurangi penggunaan boiler berbahan bakar minyak di bangunan residensial sebesar 60 persen dan di bangunan non-residensial sebesar 85 persen pada 2030. Targetnya adalah menghapus penggunaan minyak untuk pemanas pada 2035.
Sebagai gantinya, negara itu menargetkan pemasangan satu juta pompa panas alias heat pump per tahun pada 2030.
Rencana Pembangkit Listrik Baru
Prancis berencana membangun reaktor nuklir generasi baru EPR2 dan memperpanjang umur operasional reaktor yang sudah ada.
Negara itu juga ingin menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga angin sebesar 1,3 gigawatt per tahun dan melipatgandakan kapasitas terpasang pembangkit tenaga surya hingga tiga kali lipat pada 2035.