Perubahan Iklim dan Ramalan Lama Soal Hantavirus

Freepik.com
Hantavirus
11/5/2026, 15.46 WIB

Penyebaran andes hantavirus, yang berasal dari tikus dan menular antar-manusia, mencuatkan pertanyaan: kenapa penyakit zoonosis yang berasal dari hewan terasa semakin menggentayangi kehidupan manusia?

Terlepas dari teori-teori soal pengembangan virus di laboratorium, berbagai riset menunjukkan bahwa perubahan iklim dan berbagai aktivitas manusia yang merusak dan mengganggu keseimbangan alam telah meningkatkan risiko penyebaran penyakit zoonosis.

Perubahan Iklim dan "Ramalan" Lama Hantavirus

Para peneliti sudah sejak bertahun-tahun lalu memperingatkan soal risiko penyebaran hantavirus seiring perubahan iklim dan perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia. Risiko ini antara lain dibahas dalam studi bertajuk 'Climate Change and Zoonoses: A Review of the Current Status, Knowledge Gaps, and Future Trends’ yang dirilis tahun 2022.

Dalam studi yang menganalisis berbagai artikel ilmiah itu disebutkan bahwa hewan pengerat adalah reservoir atau wadah bagi berbagai penyakit zoonosis yang ditularkan hewan, termasuk hantavirus. Dan, faktor-faktor iklim memiliki pengaruh besar terhadap dinamika populasi hewan ini.

Sebagai contoh, musim dingin dan musim semi yang lebih hangat serta basah dapat mendorong lonjakan populasi tikus. Sedangkan cuaca ekstrem seperti gelombang panas membuat hewan pengerat mencari perlindungan ke dalam bangunan untuk mendapatkan air dan makanan, sehingga meningkatkan frekuensi kontak antara manusia dan tikus.

Curah hujan tinggi juga dapat meningkatkan produksi tanaman dan ketersediaan pangan, yang mendorong hewan pengerat berkembang biak lebih sering dan memperbesar populasinya.

Di New Mexico, negara bagian Amerika Serikat, peningkatan vegetasi setelah hujan lebat disebut berkaitan dengan ledakan populasi deer mouse yang memicu wabah hantavirus. Di Amerika Serikat, lonjakan kasus hantavirus juga dikaitkan dengan peristiwa cuaca yang dipengaruhi El Nino. Sedangkan El Nino diperkirakan akan semakin intens di masa depan.

Sedangkan di Belgia, suhu tinggi pada musim panas dan gugur meningkatkan produksi biji pohon, yang kemudian mendorong pertumbuhan populasi bank vole -- mamalia kecil mirip tikus, yang juga salah satu reservoir hantavirus. Pemanasan iklim di Eropa diperkirakan akan memperbesar risiko infeksi hantavirus. 

"Karena itu, insiden hantavirus pulmonary syndrome (HPS), penyakit paru berat yang disebabkan hantavirus, diperkirakan dapat meningkat dalam beberapa dekade mendatang," demikian tertulis. 

Bukan hanya faktor iklim, alih fungsi lahan juga punya andil dalam peningkatan penyebaran penyakit zoonosis yang ditularkan hewan pengerat.

Perubahan tutupan vegetasi alami menjadi habitat yang didominasi aktivitas manusia telah meningkatkan interaksi antara satwa liar, hewan ternak, spesies sinantropik (hewan yang hidup berdampingan dengan manusia, seperti tikus), dan manusia.

"Akibatnya, peluang patogen untuk berpindah antarspesies, termasuk dari hewan ke manusia, menjadi semakin besar," demikian tertulis. 

Wilayah Paling Berisiko Terhadap Penyebaran Penyakit "Prioritas"

Pada Juli tahun lalu, sebuah riset berjudul "Assessing the risk of diseases with epidemic and pandemic potential in a changing world" dipublikasikan di Science Advances. Isinya, pemetaan zona risiko wabah penyakit dengan metode machine learning dan data satelit. Hasilnya, 9,3 persen daratan disebut berisiko tinggi dan sangat tinggi terhadap penyebaran penyakit. 

Penyakit yang dimaksud adalah penyakit "prioritas" WHO. Sebagai informasi, ada banyak sekali patogen -- organisme atau agen biologis, termasuk virus, bakteri, jamur -- yang potensial menyebabkan penyakit. Dengan situasi itu, Organisasi Kesehatan Internasional di bawah PBB tersebut membuat daftar untuk memfokuskan aktivitas risetnya.

Penyakit dalam daftar prioritas tersebut yakni COVID-19, Crimean-Congo haemorrhagic fever, Ebola virus disease dan Marburg virus disease, Lassa fever, Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) and Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Nipah dan henipaviral diseases, Rift Valley fever, Zika, dan “Disease X".

Disease X merepresentasikan penyakit akibat patogeten yang sekarang belum diketahui dapat menimbulkan penyakit pada manusia dan epidemi internasional yang serius. Saat ini, publik tengah menebak-nebak, apakah Disease X ini adalah andes hantavirus yang kini membuat otoritas kesehatan berbagai negara meningkatkan kewaspadaan.

Zona Risiko Wabah Penyakit Prioritas WHO (Riset bertajuk: Assessing the risk of diseases with epidemic and pandemic potential in a changing world (Science Advance))

Lantas, seperti apa detail pemetaan dan temuannya? Hasil penelitian menunjukkan bahwa 6,3 persen dari total daratan dunia berada dalam kategori risiko tinggi, sedangkan 3 persen lainnya masuk kategori risiko sangat tinggi terhadap kemunculan wabah penyakit. Sebagian besar wilayah berisiko tersebut berada di Amerika Latin dan Oseania.

Jika dilihat berdasarkan proporsi luas wilayah, Amerika Latin memiliki porsi area berisiko tinggi dan sangat tinggi terbesar, yaitu 27,1 persen. Setelah itu berturut-turut Oseania sebesar 18,6 persen, Asia 6,9 persen, Afrika 5,2 persen, Eropa 0,2 persen, dan Amerika Utara 0,08 persen.

Secara global, sekitar 20 persen populasi dunia tinggal di wilayah dengan risiko sedang. Sedangkan sekitar 3 persen penduduk dunia hidup di kawasan dengan risiko tinggi hingga sangat tinggi terhadap wabah penyakit.

Sama seperti hasil-hasil riset lainnya, faktor perubahan iklim dan lingkungan disebut sebagai penyebab meningkatnya risiko penyebaran penyakit-penyakit ini. "Analisis kami terhadap faktor-faktor umum yang memicu penyakit prioritas WHO menunjukkan bahwa kondisi iklim, termasuk suhu yang lebih tinggi, curah hujan tahunan yang lebih besar, serta defisit air, dapat meningkatkan risiko terjadinya wabah penyakit," demikian tertulis. 

Selain faktor iklim, perubahan penggunaan lahan, perambahan manusia ke kawasan hutan, meningkatnya kepadatan penduduk dan ternak, serta hilangnya keanekaragaman hayati juga turut memperbesar risiko tersebut. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas