Menteri LH Sebut RI Masuk Fase Pembangunan 2, Bidik Kredit Keanekaragaman Hayati

ANTARA FOTO/Fitra Yogi/nym.
Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat (kanan) didampingi Gubernur Sumbar Mahyeldi (kiri) menanam bibit kelapa di kampus Poltekpel Sumatera Barat di Padang Pariaman, Selasa (14/7/2026).
23/7/2026, 14.04 WIB

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menilai Indonesia tengah memasuki fase ‘pembangunan kedua’ yaitu perekonomian yang memanfaatkan sumber daya alam tapi tanpa merusak lingkungan. 

'Pembangunan kedua' ini antara lain melalui jalur perdagangan kredit karbon dan kredit keanekaragaman hayati. Namun, Jumhur menekankan praktiknya harus hati-hati sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat di tingkat tapak, tidak justru dimainkan para calo.   

“Apalagi ada di berbagai negara atau apa, ingin menjadi ini-lah calo gitu bagi perdagangan karbon, oh enggak bisa, kita harus jadi pemimpin di situ,” kata Jumhur dalam sambutannya saat Peluncuran Buku Status Keanekaragaman Hayati Bali-Nusa Tenggara, Jawa, Maluku, dan Papua, awal pekan ini. 

Menurut dia, ada potensi ekonomi yang besar khususnya dari kredit keanekaragaman hayati. “Kalau orang bicara ada belasan ribu triliun dari perdagangan karbon, ini lebih besar lagi tentang biodiversity credit,” ujar Jumhur.

Jika kredit karbon menghargai pengurangan atau penyerapan emisi gas rumah kaca, kredit keanekaragaman hayati menghargai hasil konservasi, seperti pemulihan habitat dan peningkatan kualitas ekosistem.

Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk menggulirkan isu keanekaragaman hayati dan nilai ekonominya.

“Jumlah terestrial biodiversity (keanekaragaman hayati darat) ditambah marines (laut), kita yang paling besar. Jadi sangat wajar kalau ada permintaan dari berbagai negara untuk Indonesia menjadi pemimpin dalam isu biodiversity,” ucap Jumhur.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas