Prabowo Yakin Pangan Aman Meski El Nino Dahsyat, IESR Tagih Strategi Konkret

ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro/nym.
Warga mengambil air bersih di sumur yang digali di area persawahan di Desa Jatisura, Cikedung, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (5/8/2026). BMKG telah mengeluarkan peringatan kekeringan meteorologis untuk berbagai wilayah di tengah kemarau yang lebih panas dan kering imbas El Nino.
14/8/2026, 16.34 WIB

Presiden Prabowo Subianto optimistis pangan terjaga meski diperhadapkan dengan kemarau kering imbas fenomena El Nino yang kemungkinan bertahan hingga kuartal 1 2027. Hal ini diungkapkan Prabowo dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD hari ini.

“Soal pangan untuk rakyat Indonesia, kita berada dalam keadaan aman dan kita akan mampu menghadapi tantangan-tantangan, termasuk El Nino yang katanya tahun ini El Nino-nya paling dahsyat,” kata Prabowo, dalam pidatonya pada Sidang Tahunan DPR, di Jakarta, Jumat (14/8). 

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puluhan wilayah berstatus siaga hingga awas  kekeringan meteorologis. Kondisi ini terjadi di tengah musim kemarau dan kombinasinya dengan El Nino.

Wilayah dalam status kekeringan awas di antaranya Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. 

Rencana Konkret Pemerintah Ditagih

Merespons pernyataan Prabowo, lembaga think-tank di bidang energi dan lingkungan, Institute for Essential Services Reform (IESR), ‘menagih’ rencana dan tindakan terukur dari pemerintah. 

CEO IESR Fabby Tumiwa mengatakan, analisis BMKG menunjukkan fenomena kemarau lebih kering dan panjang. Situasi ini menuntut kesiapan nyata di tingkat daerah, untuk ketahanan air, pangan, dan energi, serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Pemerintah perlu segera memperkuat langkah antisipatif, memastikan ketersediaan air baku dan irigasi, melindungi kelompok rentan, memperkuat sistem peringatan dini, serta meningkatkan pengawasan dan restorasi ekosistem rentan kebakaran,” ujar Fabby. 

IESR meminta pemerintah pusat dan daerah untuk membuka data kesiapsiagaan secara berkala. Dan, membuka pintu bagi masyarakat, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil untuk memantau dan mengevaluasinya. 

“Ketahanan menghadapi El Nino harus dibangun sebelum krisis terjadi, bukan baru diuji saat dampaknya meluas,” kata Fabby.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas