Wali Kota Semarang Rancang Strategi Tangani Banjir, Upaya Putus Bencana Tahunan
Pemerintah Kota Semarang, Jawa Tengah menyiapkan strategi besar untuk memutus bencana banjir dan rob rutin yang terjadi tiap tahun. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, dia akan mengumpulkan berbagai pihak di pemerintahannya untuk membentuk sebuah kerangka besar penanganan banjir.
“Ketika wali kota baru, (kebijakannya) akan baru terus. Saya kira itu problematika yang paling parah, dalam proses perencanaan tidak ada grand design,” kata Agustina, dalam sambutannya di Road to Katadata SAFE: Semarang Resilience Forum 2026 di Semarang, Senin (31/8).
Menurutnya, kerangka besar ini dapat dijadikan pedoman lintas kepemimpinan. Dia berharap siapapun kepala daerahnya, penanganan banjir bisa disesuaikan dengan kerangka yang sudah ada. Kerangka besar itu akan menjabarkan upaya proses penanganan dan pengendalian banjir di Kota Semarang.
Agustina kemudian menyoroti infrastruktur saluran air yang seringkali tak berfungsi optimal. Tak jarang, saluran air yang mestinya berfungsi untuk mengalirkan dan mencegah penumpukan air, justru mampet. Pemicunya, sampah, tanah aluvial dari hulu, serta tidak terkoneksinya saluran air.
Sebab itu, menurut dia, penyelesaian masalah ini perlu melibatkan daerah-daerah sekitarnya terutama yang berada di wilayah hulu.
“Saat kami menerima limpahan air dari Kabupaten Semarang atau kabupaten-kabupaten lain yang di atas kami (posisi wilayah), air mengalir demikian deras tidak ada rem-nya,” kata dia. Salah satu pemicunya, berkurangnya ruang serapan air di area perbukitan.
Meskipun demikian, menurut dia, kerangka besar itu tidak cukup memetakan solusi berupa infrastruktur fisik. Langkah tersebut juga harus dibarengi dengan pembentukan budaya baru di masyarakat.
“Infrastruktur yang dibangun baik, terjaga, tanpa perilaku masyarakat yang baik tentu tidak akan berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai informasi, banjir yang melanda Kota Semarang pada Mei lalu bahkan telah menimbulkan korban jiwa. Dua orang meninggal dunia akibat terseret arus banjir di Ngaliyan dan Tugu. Ini belum memperhitungkan ratusan jiwa dan berbagai fasilitas terdampak.