Akui Kaya dari Bisnis Migas, Hashim: CCS Jalan Tengah Ekonomi dan Industri

Ajeng Dwita Ayuningtyas
26 Agustus 2026, 19:13
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo.
Katadata
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyampaikan dukungan terhadap teknologi penangkapan, penyimpanan, dan pemanfaatan karbon (CCS/CCUS). Menurut dia, teknologi ini dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan industri energi fosil, dan pencapaian target emisi.

Hashim, yang berlatar belakang pengusaha migas, mengatakan pemerintah berkomitmen mencapai emisi nol bersih pada 2060, tetapi tidak ingin target tersebut mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

“Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan semua sumber daya alam yang kita miliki, termasuk bahan bakar fosil dan sumber energi,” kata Hashim dalam sambutannya di The 4th International & Indonesia CCS Forum 2026, Rabu (26/8).

Hashim menilai pemanfaatan energi fosil tidak bertentangan dengan komitmen Indonesia untuk menekan emisi gas rumah kaca. Menurut dia, keduanya justru dapat berjalan beriringan dengan dukungan teknologi CCS/CCUS.

Teknologi tersebut, kata Hashim, juga dapat diterapkan pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara yang saat ini masih mendominasi sistem kelistrikan Indonesia.

“Artinya, industri batu bara kita masih memiliki masa depan yang cukup panjang, bahwa kita sebenarnya dapat mempertahankan pembangkit listrik batu bara kita,” ujarnya.

“Ini bukanlah sesuatu yang bertentangan, ini saling melengkapi,” ucap dia, menambahkan.

Hashim mengakui kegiatan ekstraktif menghasilkan emisi karbon yang besar, meski sektor tersebut juga memberikan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia. Namun, teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon dapat menjadi jalan tengah antara kepentingan ekonomi dan target pengurangan emisi.

Dia mengatakan sebagian besar kekayaannya berasal dari bisnis energi fosil, khususnya migas. Menurut dia, teknologi CCS/CCUS menjadi angin segar bagi pelaku usaha di sektor tersebut karena memungkinkan industri fosil tetap beroperasi di tengah transisi menuju ekonomi hijau.

“Saya sudah berkecimpung di bisnis minyak dan gas selama 34 tahun, jadi (teknologi CCS/CCUS) membantu saya dan banyak rekan di sini untuk berbisnis,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...