Karhutla RI Lepas Puluhan hingga Ratusan Juta Ton Karbon, FOLU Net Sink Terancam

ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/wsj.
Asap membubung di lahan gambut yang terbakar di Sungai Gelam, Muaro Jambi, Jambi, Kamis (3/9/2026). Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah ini telah berlangsung selama 20 hari dan menghanguskan hampir 100 hektare.
8/9/2026, 15.16 WIB

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun ini diestimasi telah melepas puluhan bahkan ratusan juta ton karbon.

Lembaga non-pemerintah di bidang lingkungan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) memperkirakan karhutla melepas 31 juta ton emisi CO2 sepanjang Januari hingga awal September. Ini setara emisi gas rumah kaca tahunan Kuba, negara dengan populasi sekitar 11,3 juta jiwa. 

Sedangkan lembaga pengamatan bumi milik Uni Eropa, Copernicus, mengestimasi emisinya delapan kali lebih tinggi yaitu mencapai 65,18 megaton atau setara 239 juta ton CO2. Ini setara emisi tahunan dari penggunaan bakar fosil -- untuk listrik, industri, transportasi, dan aktivitas lainnya -- Kazakhstan.

Pengkampanye Iklim dan Isu Global Walhi Patria Rizky Ananda mempertanyakan bagaimana pemerintah mencapai targetnya: sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (FOLU) menyerap lebih besar emisi daripada melepasnya pada 2030 alias FOLU Net Sink 2030. 

“Bagaimana Indonesia dapat mencapai FOLU Net Sink jika pada saat yang sama puluhan hingga ratusan juta ton CO2 terus dilepaskan dari karhutla?” ujar dia dalam keterangan resmi dikutip pada Selasa (8/9). 

Dia menjelaskan, keberhasilan FOLU Net Sink 2030 tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak karbon yang diklaim dapat diserap, tapi juga dari karbon yang berhasil untuk dipertahankan atau tidak dilepaskan.

Ketidakberdayaan mencegah karhutla masif berisiko merusak kredibilitas komitmen iklim Indonesia.  

Koordinator Pengkampanye Walhi Nasional Uli Arta Siagian menilai FOLU Net Sink 2030 sudah gagal sejak dalam tahap penyusunan. “Logika FOLU yang masih memberikan kuota besar bagi perubahan hutan menjadi konsesi bisnis, berkolerasi dengan karhutla yang terus terjadi,” ujar Uli. 

Dia kemudian menyinggung data timbulan emisi dari karhutla pada tahun-tahun sebelumnya. Mengutip SiPongi Kementerian Kehutanan, emisi akibat karhutla pada 2024 mencapai 53,5 juta ton CO2, lalu meningkat menjadi 56,2 juta ton CO2 pada 2025.  

Walhi Minta Integrasi Kebijakan Iklim dengan Penataan Ruang dan Izin 

Menurut Walhi, karhutla perlu dipandang sebagai masalah utama kebijakan iklim di Indonesia. Sedangkan perlindungan dan restorasi gambut, sebagai inti strategi FOLU, sehingga bukan baru dilakukan saat kebakaran terjadi. 

Walhi mendorong agar pemerintah melakukan pencegahan karhutla berdasarkan risiko, khususnya pada ekosistem gambut dan kawasan yang berulang kali terbakar. Selain itu, pemerintah diminta menghentikan tata kelola yang membuat kawasan penyimpan karbon itu rentan terbakar.

Walhi meminta agar pemerintah memperketat pengawasan dan penegakan hukum terhadap korporasi yang terbukti menyebabkan atau membiarkan terjadinya karhutla. 

Dan, meminta pemerintah mengintegrasikan kebijakan iklim dengan penataan ruang dan perizinan, agar kebijakan pemanfaatan lahan tidak menghasilkan emisi yang bertentangan dengan target FOLU Net Sink.

Berbagai upaya ini, menurut Walhi, bisa dilakukan bersamaan dengan penguatan peran masyarakat adat dan komunitas lokal dalam menjaga dan memulihkan ekosistem rentan terbakar. 

“Karhutla 2026 menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut belum selesai. Selama hutan dan gambut masih terus terbakar, jutaan ton emisi masih dilepaskan, dan sumber emisi tersebut tidak dihentikan, maka komitmen FOLU Net Sink 2030 patut dipertanyakan,” ujar Uli.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas