Musim Hujan Lebih Pendek, BMKG Waspadai Lonjakan Curah Hujan

ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/gp/Spt.
Musim hujan 2026 tidak datang serentak di wilayah Indonesia. BMKG memprediksi beberapa wilayah di Kalimantan, Riau, dan Sumatra Selatan diprediksi duluan memasuki musim hujan yaitu pada Oktober. Namun, sebagian besar wilayah baru mengalami musim hujan pada November hingga Desember.
22/9/2026, 17.50 WIB

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan mulai memasuki sebagian wilayah Indonesia pada November dan mencapai puncaknya pada Desember. Karena awal musim hujan dan puncaknya terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, BMKG memperingatkan risiko lonjakan curah hujan yang dapat memicu banjir dan longsor.

“Awal masuknya musim hujan dengan puncaknya musim hujan untuk periode musim hujan ini secara umum berdekatan, sehingga perlu kita waspadai lonjakan curah hujan yang bisa menyebabkan dampak turunan yaitu banjir dan longsor,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers pada Selasa (22/9).

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menambahkan, musim hujan tahun ini cenderung berlangsung lebih pendek dari normal. Namun, curah hujan pada periode tersebut diprediksi berada pada kategori normal hingga di atas normal.

Kondisi tersebut membuat hujan berpotensi turun dengan intensitas tinggi pada bulan-bulan tertentu. Risiko bencana hidrometeorologi pun perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang secara historis pernah mengalami bencana serupa.

Menurut Andri, wilayah yang perlu mendapat perhatian antara lain sebagian Jawa, terutama Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. “Juga untuk wilayah Sumatra, ini juga perlu diperhatikan di barat Sumatra, kemudian juga Sumatra Utara dan Aceh,” ujarnya.

Potensi peningkatan intensitas hujan juga perlu diwaspadai ketika Indian Ocean Dipole (IOD) memasuki fase positif. “Kami terus pantau. Saat ini netral, tapi apabila terus positif, tentu ini juga akan menambah intensitas curah hujan,” ucapnya.

Musim Hujan Datang, Dampak El Nino Diprediksi Menurun

Ardhasena menjelaskan, musim hujan tahun ini tidak datang serentak di wilayah Indonesia. Beberapa wilayah di Kalimantan, Riau, dan Sumatra Selatan diprediksi duluan memasuki musim hujan yaitu pada Oktober. Namun, sebagian besar wilayah mulai mengalami musim hujan pada November hingga Desember.

Sebanyak 185 zona musim (ZOM) atau 24,66 persen luas daratan Indonesia diprediksi mulai mengalami musim hujan pada November. Zona musim tersebut tersebar di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Barat, sebagian kecil Nusa Tenggara Timur, Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan.

Sedangkan sebanyak 266 ZOM atau 17,31 persen luas daratan Indonesia diprediksi baru memasuki musim hujan pada Desember. Wilayah tersebut mencakup sebagian Lampung, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Selatan bagian selatan, serta sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi.

BMKG memprediksi puncak musim hujan terjadi pada Desember 2026 di 155 ZOM atau mencakup 36,94 persen luas daratan Indonesia. Puncak musim hujan kemudian berlanjut pada Januari hingga Februari 2027.

Sedangkan 162 ZOM atau 25,68 persen luas daratan mencapai puncak musim hujan pada Januari dan 190 ZOM atau 16,79 persen pada Februari 2027.

Saat musim hujan mulai berlangsung, kata Ardhasena, dampak El Nino terhadap Indonesia yang selama ini berkontribusi terhadap kekeringan akan berkurang.

BMKG memprediksi El Nino bertahan hingga setidaknya awal kuartal pertama 2027. Namun, dampaknya terhadap Indonesia terutama terasa ketika fenomena tersebut bertepatan dengan musim kemarau.

“Sehingga kekeringannya itu berakhir, tapi El Nino-nya di Pasifik tetap terus berjalan,” ujar Ardhasena.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas