BEI Sebut Tak Ada Penundaan Rencana IPO Karena Virus Corona

ANTARA FOTO/Galih Pradipta/pd.
Ilustrasi, warga melintas di samping layar yang menampilkan infornasi pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (13/3/2020). BEI menyatakan tak ada rencana penundaan 25 calon emiten yang bakal melantai di bursa saham pada tahun ini.
16/3/2020, 14.03 WIB

Bursa Efek Indonesia atau BEI menyatakan hingga saat ini tidak ada rencana penundaan penawaran saham baru alias initial public offering (IPO). Meskipun, wabah virus corona telah meluas ke Indonesia.

Hingga 4 Maret 2020, terdapat 25 perusahaan yang masuk berencana IPO pada tahun ini. "Sampai saat ini belum ada. Namun, prosesnya kami jalankan melalui elektonik. Temu muka dan mini expose melalui WebEx," kata Direktur Utama BEI Inarno Djajadi kepada Katadata.co.id, Senin (16/3).

Dari data perusahaan yang berencana IPO tahun ini, terdapat 12 perusahaan yang merupakan perusahaan besar karena memiliki aset di atas Rp 250 miliar. Sedangkan tujuh di antaranya memiliki aset bernilai antara Rp 50-250 miliar dan enam perusahaan masuk kategori beraset di bawah Rp 50 miliar.

(Baca: Investor Asing Beli Bersih Saham, IHSG Sesi I Masih Anjlok 3,5%)

Dari data tersebut, mayoritas perusahaan yang berencana melantai di pasar modal berasal dari dua sektor, yaitu delapan perusahaan yang berasal dari sektor perdagangan, servis, dan investasi, serta tujuh perusahaan yang bergerak di sektor properti.

Dari daftar pipeline IPO, empat perusahaan sudah melantai setelah 4 Maret 2020. Dua perusahaan yaitu PT Esta Multi Usaha Tbk (ESTA) dan PT Batulicin Nusantara Maritim Tbk (BESS) melantai pada 9 Maret 2020. Sedangkan PT Makmur Berkah Amanda Tbk (AMAN) dan PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE) melantai 13 Maret 2020.

Total sudah ada 18 perusahaan yang melantai di pasar saham sejak awal tahun ini. Total dana yang diraup dari emitenbaru tersebut mencapai Rp 2,64 triliun, dimana Metro Healthcare menjadi yang paling besar dengan meraup dana Rp 1,03 triliun.

(Baca: IHSG Anjlok Hingga 3,99% Terseret Kebijakan The Fed Pangkas Bunga)

Reporter: Ihya Ulum Aldin