RNI Kembali Dorong Anak Usahanya Masuk Bursa Saham Tahun Depan
PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI berencana untuk membawa anak usahanya, PT Pabrik Gula Rajawali I untuk melantai di pasar modal melalui skema penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO). Mereka membidik dana sebesar Rp 500 miliar dari aksi korporasi yang diperkirakan terlaksana pada Semester II-2019.
Direktur Utama RNI Didik Praseto mengatakan, saat ini pihaknya sedang mengkaji lebih jauh rencana IPO anak usahanya yang bergerak di bidang agro industri berbasis tebu ini. "Kami juga akan membahas dengan Kementerian BUMN karena harus ada izin (dari Kementerian BUMN),” ujarnya di Gedung BEI, Rabu (26/12).
Dana hasil IPO tersebut, salah satu rencananya digunakan untuk ekpansi proses hilirisasi pabrik gula. Didik ingin agar PG Rajawali I tidak hanya mengolah tebu menjadi gula saja, tapi juga mampu mengembangkan industri hilirisasi menjadi produk lainnya. Beberapa potensi produk hilirisasi lainnya seperti bioethanol, particle board, dan energi listrik dari ampas.
Meski begitu, Didik masih membahas lebih lanjut produk hilirisasi apa yang akan diterapkan pada PG Rajawali I usai mendapat dana segar dari IPO. "Jadi, PG Rajawali I ke depannya bukan hanya perusahaan gula, tetapi juga perusahaan pengolahan tebu (yang menghasilkan produk lain),” ujarnya.
(Baca: Perdana Diperdagangkan di Bursa, Saham Phapros Melesat 50%)
Seperti diketahui, PG Rajawali I didirikan pada tahun 1996 di Surabaya, Jawa Timur. Perusahaan ini beroperasi di lahan seluas 30.000 hektare. PG Rajawali I memiliki total aset senilai Rp 1,3 triliun. Saham mereka sebesar 99,9% dimiliki RNI dan sisanya 0,001% dimiliki oleh PT Rajawali Nusindo.
PG Rajawali I memiliki dua pabrik pengolahan tebu menjadi gula dengan total produksi 18.000 ton cane per hari (TCD). Dua pabrik tersebut yaitu PG Rejo Agung Baru di Madiun dengan kapasitas produksi 6.000 TCD dan PG Krebet Baru di Malang dengan kapasitas produksi 12.000 TCD.
RNI baru saja membawa anak usahanya yaitu PT Phapros Tbk (PEHA) melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) meski tidak mencari tambahan dana di pasar modal karena saham perusahaan sudah dimiliki oleh publik. Pada perdagangan perdananya, saham mereka naik 50% dari Rp 1.200 per saham menjadi Rp 1.800.
Direktur Utama Phapros Barokah Sri Utami mengatakan, Phapros merupakan perusahaan terbuka tetapi belum tercatatkan di BEI. Sehingga, mekanisme jual-beli saham selama ini dilakukan melalui pasar konvensional. Hal tersebut mengakibatkan harga saham Phapros tidak memiliki standar dan patokan yang jelas.
(Baca: Ekspansi Bisnis Obat, Phapros Siapkan Capex Rp 350 Miliar pada 2019)