Tuduhan Donald Trump Manipulasi Pasar Gerus Kepercayaan Pelaku Pasar Modal

Unsplash.com
Ilustrasi bursa Wall Street, New York Stock Exchange, Amerika Serikat
Editor: Yuliawati
10/4/2025, 12.23 WIB

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, diduga manipulasi pasar demi keuntungan pribadi dan para donaturnya usai penundaan kebijakan tarif. Tudingan ini dinilai akan berdampak signifikan pada pergerakan pasar keuangan.

Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas Muhammad Thoriq Fadilla, menilai kasus ini mencerminkan bagaimana keputusan politik dapat memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan pasar keuangan.

Penundaan tarif diumumkan secara tiba-tiba setelah munculnya sinyal di media sosial, lalu diikuti lonjakan pasar yang menguntungkan afiliasi politik dan donor di Wall Street.

“Maka ini tentu menjadi masalah serius dari sisi etika dan tata kelola pemerintahan,” kata Thoriq ketika dihubungi Katadata.co.id, Kamis (10/4).

Selain itu, ia menilai meskipun tudingan terhadap Presiden Donald Trump terkait dugaan manipulasi pasar belum terbukti secara hukum, hal tersebut sudah cukup memunculkan persepsi negatif di kalangan publik dan investor.

Pasar modal membutuhkan kepastian, keterbukaan informasi, serta prinsip keadilan agar seluruh pelaku pasar memiliki akses yang setara terhadap informasi.

Ketika terdapat indikasi informasi sensitif dimanfaatkan oleh kelompok tertentu sebelum diumumkan ke publik, kata Thoriq, kepercayaan terhadap pasar bisa terganggu. Pada akhirnya berdampak pada stabilitas jangka panjang.

Menurut Thoriq, kasus ini mencerminkan urgensi perlunya pemisahan yang tegas antara kepentingan pribadi atau kelompok dengan kebijakan publik.

“Khususnya di sektor yang sangat sensitif seperti perdagangan dan pasar keuangan,” ucap Thoriq.

Presiden AS Donald Trump Diduga Manipulasi Pasar Lewat Penundaan Tarif

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, diduga manipulasi pasar untuk menguntungkan para donaturnya di Wall Street melalui kebijakan penundaan tarif.

Senator Massachusetts, Elizabeth Warren, mendesak agar dilakukan penyelidikan atas kemungkinan Trump sengaja memanipulasi pasar demi menguntungkan para pendukung finansialnya di Wall Street, sementara pekerja dan pelaku usaha kecil justru menjadi pihak yang dirugikan.

Presiden Trump mengumumkan penundaan sementara selama 90 hari atas tarif tinggi yang baru saja diberlakukannya terhadap puluhan negara, kecuali untuk Cina yang justru dinaikkan menjadi 125%. Keputusan mendadak ini langsung mendorong indeks saham utama AS melonjak tajam dan membawa angin segar ke pasar keuangan global yang sempat dilanda kekacauan.

“Apakah Trump membantu orang untuk mengeruk keuntungan dari perubahan tarif yang dilakukannya? Sepertinya ini terlihat seperti korupsi,” tulis Warren dalam media sosial X pribadinya, Selasa (10/4).

Dalam video singkatnya, ia menuding Donald Trump merusak perekonomian dengan kebijakan tarif yang berubah-ubah. Setelah sempat menetapkan tarif tinggi secara luas, Trump menurunkan tarif 10% untuk semua pihak, lalu menaikkan jadi 125% khusus untuk Cina, angka itu naik dari 105% sehari sebelumnya. Menurutnya, kebijakan yang tidak konsisten ini menciptakan kebingungan dan ketidakpastian sebab tak ada yang tahu tarif apa yang akan diberlakukan esok atau minggu depan.

“Apakah harga-harga masih naik? Ya. Apakah bisnis masih waspada dalam berinvestasi? Ya. Apakah jutaan orang yang bekerja masih khawatir tentang pekerjaan mereka? Dan jutaan bisnis kecil masih khawatir tentang penutupan toko? Ya,” tambah Warren.

Warren mendesak penyelidikan independen terhadap dugaan manipulasi pasar oleh Trump. Ia menuduh Trump sengaja memberi sinyal kepada para miliarder rekannya sesaat sebelum mencabut sebagian tarif, dengan memposting pesan berbunyi 'INI SAAT YANG TEPAT UNTUK MEMBELI' di media sosial.

Warren menilai tindakan tersebut berpotensi sebagai bentuk korupsi terbuka yang menguntungkan para donatur Trump, sementara usaha kecil dan keluarga pekerja justru menanggung kerugian akibat kebijakan tarif yang tidak konsisten. Ia juga menyebut kebijakan perdagangan Trump sebagai "bencana", karena menciptakan ketidakpastian dan kekacauan ekonomi. Lebih lanjut, Warren mendesak Partai Republik di Kongres untuk bertindak menghentikan perang dagang yang merugikan rakyat Amerika.

Ia mendorong pengesahan resolusi bipartisan yang diajukannya bersama Senator Ron Wyden, yang bertujuan mencabut otoritas darurat yang digunakan Trump dalam menetapkan tarif secara global. Warren menegaskan, apabila Kongres tidak mengambil tindakan, mereka akan turut bertanggung jawab atas dampak kebijakan tersebut.

“Jadi saya punya pertanyaan sederhana untuk Senat, mengapa kami tidak menjalankan resolusi ini sekarang juga?” ucapnya.

Wall Street Melesat Usai Trump Tunda Tarif hingga 90 Hari

Melansir CNBC, Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) melonjak pada perdagangan saham Rabu (9/4). Rekor itu mencatatkan salah satu reli terbesar dalam sejarah, usai Presiden Donald Trump mengumumkan penghentian sementara sejumlah tarif "timbal balik" terhadap negara lain.

Pernyataan ini juga memicu lonjakan besar di pasar yang sebelumnya tertekan selama sepekan terakhir. S&P 500 melesat 9,52% dan ditutup di level 5.456,90, menjadi lonjakan harian terbesar sejak krisis 2008 dan kenaikan ketiga terbesar sejak Perang Dunia II. Sementara Dow Jones Industrial Average melonjak 2.962,86 poin atau 7,87% ke 40.608,45, kenaikan tertinggi sejak Maret 2020.

Nasdaq Composite pun tak kalah, terapresiasi 12,16% dan ditutup di 17.124,97, mencetak lonjakan harian tertinggi sejak Januari 2001 dan menjadi hari terbaik kedua dalam sejarah indeks tersebut. Volume perdagangan juga mencetak rekor, dengan sekitar 30 miliar saham berpindah tangan, menjadikannya hari tersibuk di Wall Street sejak data dicatat 18 tahun lalu.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila