Target Baru Harga Saham BRMS dan BREN Usai Masuk Indeks MSCI Global Standard

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
Penulis: Karunia Putri
6/11/2025, 07.03 WIB

Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi memasukkan emiten tambang emas Grup Bakrie PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan perusahaan EBT milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Reenewables Energy Tbk (BREN) ke dalam indeks MSCI Global Standard. Sejumlah sekuritas kemudian menaikkan target harga saham keduanya usai bertengger dalam indeks bergengsi tersebut.

Indeks MSCI adalah indeks yang dirancang oleh Morgan Stanley Capital International untuk mencerminkan pergerakan harga saham dalam berbagai kategori, termasuk emiten di negara maju dan berkembang. Adapun MSCI merupakan perusahaan investasi global yang telah berkiprah lebih dari 50 tahun riset, data dan teknologi yang mendukung investasi.

“Tiga tambahan terbesar pada Indeks MSCI Emerging Markets yang diukur berdasarkan kapitalisasi pasar perusahaan penuh adalah Barito Renewables Energy (Indonesia), Zijin Gold International (Tiongkok), dan GF Securities Co H (Tiongkok),” tulis MSCI dalam rilis resmi yang dikutip Kamis (6/11).

Bagaimana target baru harga saham BREN dan BRMS setelah masuk dalam indeks MSCI? 

Target Harga Terbaru BRMS

Analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova langsung menyematkan target harga tinggi kepada saham BRMS, yakni ke level 1.410, usai masuk kategori Global Standard MSCI. 

“Target technical saya untuk BRMS level 1.410,” katanya kepada Katadata, Kamis (6/11).

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Juan Harahap dan Fadhlan Banny memberikan target harga, level 1.300 untuk saham BRMS. Menurut keduanya, target harga tersebut tercermin dari kinclongnya kinerja keuangan kuartal ketiga perseroan serta proyek tambang bawah tanah perseroan yang disinyalir dapat meningkatkan pundi-pundi kekayaan BRMS.

Samuel Sekuritas juga merevisi naik proyeksi kinerja BRMS secara signifikan. Asumsi harga emas dinaikkan menjadi US$ 3.345 per ons untuk 2025 dan US$ 4.500 per ons untuk 2026, dengan estimasi biaya tambang yang disesuaikan berdasarkan kinerja sembilan bulan pertama 2025.

Sebagai hasilnya, proyeksi laba bersih BRMS untuk 2025 dan 2026 masing-masing dinaikkan 34,6% dan 72,6%. 

“Samuel Sekuritas kembali menegaskan rekomendasi BUY dengan target harga berbasis SOTP sebesar Rp 1.300 per saham, mencerminkan potensi kenaikan sekitar 40% dari level saat ini,” katanya dalam keterangan resmi dikutip Kamis (6/11).

Pada perdagangan kemarin, harga saham BRMS ditutup melesat 9,68% atau 90 poin ke level 1.020. Sejak awal tahun, harga saham BRMS telah menguat 194.80% atau bertambah 674 poin.

Target Harga Terbaru BREN

Sementara itu, analis BinaArtha juga menaikkan target harga untuk emiten Prajogo, BREN. Ivan memberikan target harga ke level 12.100 untuk saham BREN.

Di sisi lain, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyarankan agar investor menambah kepemilikan pada saham BREN dengan target harga ke level 9.775. 

Harga saham BREN ditutup meningkat pada perdagangan kemarin. Harga sahamnya melompat 5,69% atau 525 poin ke level 9.750. Harga saham BREN tumbuh 5,12% atau bertambah 475 poin sejak awal tahun.

Respon Bos BRMS

Masuknya BRMS dalam indeks bergengsi MSCI kategori Global Standard menambah deretan indeks bergengsi dalam catatan BRMS. Sebelumnya, Direktur BRMS Herwin Wahyu Hidayat mengatakan, saat ini saham BRMS telah tercatat dalam sejumlah indeks bergengsi seperti IDX80, KOMPAS100, FTSE Small Cap dan MSCI Small Cap pada periode September tahun lalu. 

“Formulanya memang tergantung MSCI. Tapi kalau bisa masuk ke Big Cap, tentu itu pencapaian yang sangat bagus. Siapa yang tidak mau?” ujar Herwin ketika di temu wartawan usai pergelaran paparan publik BRMS di Jakarta, Rabu (5/11).

Herwin mengatakan, manajemen BRMS berkomitmen menjaga fundamental perusahaan agar tetap solid. Hal itu sesuai senada dengan penuturan Direktur Utama BRMS Agoes Projosasmito. Dia menekankan pentingnya pencapaian target produksi, peningkatan cadangan dan sumber daya tambang serta perbaikan kinerja keuangan.

“Kalau kinerja bisa terus membaik, harapan untuk masuk ke indeks besar seperti MSCI Big Cap akan mengikuti dengan sendirinya,” ujarnya.

Sementara itu, Agoes menambahkan, saat ini porsi saham publik atau free float BRMS mencapai lebih 30%. Sementara itu, salah satu syarat masuknya suatu saham ke dalam indeks MSCI adalah minimal 15% saham harus dimiliki oleh publik dan aktif diperdagangkan.

“Jadi ini [free float] besar, ini bukan kacang-kacangan,” kata Agoes.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri