Pandu Sjahrir: Pengawasan Pasar Modal Tetap oleh Regulator Meski Ada Danantara
Chief Investment Officer (CIO) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Pandu Sjahrir memastikan adanya pemisahan konflik kepentingan Danantara setelah proses demutualisasi bursa rampung. Ia memastikan fungsi pengawasan tetap berada di tangan regulator yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), meskipun Danantara akan masuk ke bursa.
Adapun sebelumnya, Danantara sudah buka-bukaan akan menjadi pemegang saham BEI selelah peraturan demutualisasi selesai kuartal pertama tahun ini.
“Soal itu sangat jelas, isu regulasi itu dipegang oleh regulator,” kata Pandu saat ditemui di sela-sela acara Indonesia Economic Summit 2026, Rabu (4/2).
Dia menyebut di dunia ini banyak model demutualisasi bursa, salah satunya adalah sovereign wealth fund (SWF). Dalam model ini menurutnya isu regulasi dipegang oleh regulator.
Pandu mengatakan praktik di berbagai negara menunjukkan sovereign fund dapat berperan sebagai pemegang saham bursa tanpa mengganggu independensi pengawasan pasar. Ia mencontohkan model yang diterapkan di Hong Kong dan India.
Dia menyontohkan pengawasan pasar modal di Hong Kong dilakukan oleh Securities and Futures Commission (SFC). Model serupa juga diterapkan di Singapura yang dinilai memiliki sistem pengawasan pasar yang paling dekat dengan Indonesia.
Dia mengklaim, model demutualisasi bursa ini justru lebih bagus dibandingkan kondisi saat ini.
“Itu sudah jelas sovereign wealth fundnya mungkin salah satu shareholder, tapi untuk menjaga agar tidak ada konflik kepentingan maka regulator yang memegang. Ini malah lebih bagus daripada sekarang,” ujarnya.
Sinyal SWF
Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia memberikan sinyal terkait porsi SWF Indonesia itu untuk menggenggam saham Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal itu seiring dengan rencana pemerintah yang tengah mengebut aturan demutualisasi.
Melalui skema demutualisasi, struktur kepemilikan BEI tidak lagi hanya dimiliki oleh perusahaan efek sebagai anggota bursa. Dengan demutualisasi BEI nantinya akan terbuka untuk dikuasai melalui kepemilikan saham oleh banyak pihak termasuk negara hingga asing.
CEO BPI Danantara, Rosan P Roeslani mengatakan, Danantara tengah mempelajari terlebih dulu berapa porsi saham BEI pasca demutualisasi. “Mengenai demutualisasi kami tentunya akan mempelajari terlebih dahulu berapa persen yang kami ingin masuk dan kriteria-kriterianya, pada saat kami masuk dan berinvestasi,” kata Rosan kepada wartawan seusai Dialog Pelaku Pasar Modal di Main Hall Gedung BEI, Jakarta, Minggu (1/2).
Rosan juga mengatakan, Danantara juga melihat praktik di hampir semua bursa dunia, sovereign wealth fund memang ikut masuk menjadi pemegang saham. Porsinya beragam mulai dari 15%, 25%, 30%, bahkan bisa lebih.
“Ada yang lebih dari itu ya. Tapi tentunya kami akan lihat, bukan hanya Danantara, tapi bisa sovereign wealth fund (SWF) lainnya juga,” ujarnya.