BRIS Buka Suara soal Kenaikan Free Float Jadi 15% hingga Pembagian Dividen

ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/foc.
Direktur Finansial dan Strategi BSI, Ade Cahyo Nugroho, menyampaikan paparannya saat konferensi pers Laporan Kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk 2024 di The Tower Jakarta, Kamis (6/2/2025).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
6/2/2026, 18.25 WIB

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) merespons dorongan pemerintah untuk menaikkan batas porsi saham publik atau free float emiten dari 7,5% menjadi 15%. Saat ini, porsi free float saham BRIS tercatat sebesar 9,25% per Jumat (6/2).

Direktur BRIS Ade Cahyo Nugroho mengatakan, perseroan menyambut baik langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendorong peningkatan free float emiten di pasar modal.

“Tentu kami menyambut baik upaya dari bursa maupun regulator yang meminta para emiten meningkatkan free float agar likuiditas saham di pasar semakin baik dan sesuai dengan keinginan investor, baik domestik maupun global,” ujar Cahyo dalam paparan kinerja keuangan kuartal IV 2025 secara virtual, Jumat (6/2).

Dia menjelaskan, rencana kenaikan batas minimum free float menjadi 15% menjadi perhatian bagi BRIS, mengingat porsi saham publik perseroan saat ini masih berada di bawah 10%. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat menjadi pemicu percepatan peningkatan free float di pasar modal Indonesia.

Cahyo menuturkan, BRIS akan terus berkonsultasi dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dalam setiap tahapan, termasuk membahas sejumlah aspek terkait struktur permodalan dan ekuitas perseroan. Langkah tersebut sejalan dengan ambisi BRIS untuk tumbuh menjadi bank yang lebih besar dan naik ke kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4.

Sebelumnya, OJK bersama self regulatory organization (SRO) pasar modal berencana menaikkan porsi free float emiten menjadi 15%. Kebijakan ini masuk dalam delapan agenda prioritas OJK sebagai bagian dari reformasi pasar modal, di tengah tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir.

OJK menilai kebijakan tersebut diperlukan untuk menyelaraskan ketentuan free float di Indonesia dengan standar global, sehingga pasar modal semakin kredibel, menarik bagi investor, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara optimal.

Kisi-kisi Dividen BRIS

Selain membahas free float, Cahyo juga memberikan gambaran mengenai kebijakan dividen BRIS untuk tahun buku 2025. Menurutnya, karakteristik BSI berbeda dibandingkan sebagian besar bank lain karena saat ini perseroan masih berada dalam fase pertumbuhan (growing stage).

“Ketika perusahaan berada dalam fase pertumbuhan, kebijakan dividen biasanya menjadi prioritas kedua setelah menentukan seberapa agresif pertumbuhan yang ingin dicapai,” ujarnya.

Cahyo menyebutkan, pertumbuhan bisnis BSI sepanjang 2025 tercatat dua kali lipat dibandingkan rata-rata industri perbankan, dan tren tersebut diperkirakan berlanjut pada 2026. Kondisi ini membuat perseroan membutuhkan tambahan modal untuk menopang ekspansi bisnis yang agresif.

“Secara garis besar, itulah arah kebijakan dividend payout kami. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan pemegang saham dan akan ditetapkan dalam RUPS pada 2026,” kata Cahyo.

Ia menyatakan, BRIS tidak akan mengambil kebijakan pembagian dividen secara agresif seperti bank-bank yang sudah berada pada tahap matang. Perseroan lebih memprioritaskan penguatan ekuitas untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang tengah berlangsung.

Berdasarkan riwayat pembagian dividen, BRIS terakhir kali membagikan dividen pada Juni 2025 untuk tahun buku 2024 sebesar Rp 22,78 per saham. Pada tahun sebelumnya, perseroan membagikan dividen sebesar Rp 18,55 per saham kepada para pemegang saham.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri