Wall Street Cetak Rekor Tertinggi Usai Selat Hormuz Sempat Dibuka

Unsplash.com
Ilustrasi bursa Wall Street, New York Stock Exchange, Amerika Serikat
20/4/2026, 06.47 WIB

Indeks Wall Street di Amerika Serikat (AS) menembus rekor tertinggi baru atau all time high (ATH) pada perdagangan Jumat (17/4). Lonjakan indeks itu usai Iran sempat membuka Selat Hormuz usai pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.

Indeks S&P 500 melonjak 1,2% dan ditutup di level 7.126,06, menembus ambang batas 7.100 untuk pertama kalinya. Lalu Nasdaq Composite naik 1,52% dan ditutup di 24.468,48, menandai hari ke-13 berturut-turut dengan kenaikan dan rekor tren positif terpanjang sejak 1992. Kedua indeks tersebut mencatatkan rekor intraday dan penutupan baru. 

Dow Jones Industrial Average juga melonjak 868,71 poin, atau 1,79% dan ditutup di 49.447,43. Indeks Russell 2000 juga mencapai rekor tertinggi baru, naik lebih dari 2%.

Dalam unggahan di platform X pada Jumat, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyampaikan bahwa jalur pelayaran bagi seluruh kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dibuka sepenuhnya selama masa gencatan senjata.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada Kamis menyebut pemimpin Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari.

Meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan membuat harga minyak jatuh setelah pengumuman dari Iran. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun hampir 12% dan ditutup di level US$ 83,85 per barel, sementara kontrak Brent sebagai acuan global melemah 9% ke US$ 90,38 per barel.

Trump juga mengapresiasi Iran atas dibukanya Selat Hormuz. Namun, ia mengatakan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap akan diberlakukan penuh hingga tercapai kesepakatan damai dengan Teheran.

“Proses ini harus berlangsung sangat cepat karena sebagian besar poin-poinnya sudah dinegosiasikan,” kara Trump dalam sosial media X, dikutip CNBC International, Senin (20/4). 

Pembukaan kembali jalur tersebut kemungkinan masih bersifat terbatas. Kantor berita Iran, Tasnim News Agency, melaporkan kapal maupun muatan yang terafiliasi dengan negara-negara musuh tidak akan diizinkan melintas. 

Selain itu, selat disebut berpotensi kembali ditutup apabila blokade Amerika Serikat masih berlanjut. Hingga kini juga belum ada kepastian apakah kapal yang melintas akan dikenakan biaya atau tol.

Kepala strategi pasar di Ameriprise Financial, Anthony Saglimbene, menilai pasar saat ini sudah mengesampingkan skenario terburuk dan mulai melihat peluang berakhirnya konflik antara AS dan Iran, dengan Selat Hormuz tetap terbuka. 

“Ke depan, terutama untuk sektor teknologi, terutama untuk magnificent seven, kita perlu melihat tidak hanya laba yang sesuai dengan perkiraan analis, tetapi juga prospek yang kuat,” ucap Saglimbene dikutip CNBC International, Senin (19/4).

Meski demikian, konflik kemungkinan kembali memanas. Ini setelah AS  Marinir AS mengambil alih kapal berbendera Iran usai mencoba melewati blokade AS. 

“Sebuah kapal kargo berbendera Iran bernama TOUSKA, dengan panjang hampir 900 kaki dan berat hampir sama dengan kapal induk, mencoba melewati Blokade Angkatan Laut kami, dan itu tidak berjalan baik bagi mereka,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Senin (20/4) dini hari.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan bahwa setiap pergerakan menuju Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh.

"AS tidak mencabut blokade angkatan laut terhadap kapal dan pelabuhan Iran; oleh karena itu, mulai sore ini, Selat Hormuz ditutup hingga blokade ini dicabut," kata IRGC, menurut Kantor Berita WANA yang berbasis di Teheran pada Minggu (19/4).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila